KHUTBAH I
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ جَعَلَ الْإِخْلَاصَ رُوْحَ الْأَعْمَالِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ، أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah menganugerahkan kepada kita nikmat iman dan Islam. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beserta keluarga, para sahabat, dan seluruh pengikutnya hingga akhir zaman.
Pada kesempatan yang mulia ini, saya berwasiat kepada diri saya sendiri dan kepada jamaah sekalian untuk senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Takwa adalah benteng yang kokoh dalam menghadapi segala ujian kehidupan, dan ia menjadi bekal terbaik menuju perjumpaan dengan-Nya. Marilah kita jaga setiap langkah, setiap ucapan, dan setiap niat kita agar selalu berada dalam ridha-Nya.
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Topik khutbah kita pada hari ini adalah tentang sebuah pelajaran agung yang dapat kita petik dari kisah dua nabi mulia, yaitu Nabi Ibrahim ‘alaihis salam dan putranya, Nabi Ismail ‘alaihis salam. Kisah ini bukanlah sekadar cerita sejarah, melainkan sebuah madrasah ruhiyah yang mengajarkan kepada kita tentang hakikat keikhlasan. Ikhlas adalah inti dari setiap amal yang diterima di sisi Allah. Tanpa keikhlasan, amal yang tampak besar dan megah di mata manusia bisa menjadi debu yang beterbangan di akhirat kelak.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an:
وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ
“Padahal mereka tidak diperintahkan kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus…” (QS. Al-Bayyinah: 5)
Ayat ini menegaskan bahwa inti dari perintah Allah adalah keikhlasan. Ibadah tanpa keikhlasan bagaikan jasad tanpa ruh. Maka, mari kita renungkan bagaimana Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail mengajarkan kepada kita tentang keikhlasan yang paripurna.
Pertama, keikhlasan dalam menerima perintah Allah. Ketika Nabi Ibrahim ‘alaihis salam mendapatkan perintah melalui mimpi untuk menyembelih putra kesayangannya, Ismail, beliau tidak bertanya, “Mengapa?” atau “Untuk apa?”. Beliau langsung menyampaikan perintah itu kepada putranya dengan penuh kelembutan. Ini menunjukkan bahwa keikhlasan sejati adalah ketika seorang hamba menerima perintah Allah tanpa keraguan, meskipun akal sehatnya mungkin belum mampu menjangkaunya. Allah berfirman:
فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَىٰ ۚ قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ
“Maka tatkala anak itu sampai (pada umur) sanggup berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: ‘Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!’ Ia menjawab: ‘Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.’” (QS. Ash-Shaffat: 102)
Kedua, keikhlasan dalam bentuk kepasrahan total. Nabi Ismail ‘alaihis salam, meskipun masih muda dan memiliki masa depan yang cerah, tidak membantah perintah Allah yang disampaikan melalui ayahnya. Ia justru menenangkan ayahnya dan menunjukkan sikap sabar yang luar biasa. Ini adalah puncak keikhlasan: ketika seorang hamba menyerahkan seluruh jiwa raganya kepada Allah, tanpa ada rasa berat atau terpaksa. Ia sadar bahwa apa yang diperintahkan Allah adalah yang terbaik, meskipun tampak pahit.
Ketiga, keikhlasan dalam proses pelaksanaan. Ketika keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan Ismail dengan keningnya di tanah, di saat pisau telah diarahkan, Allah memanggilnya:
وَنَادَيْنَاهُ أَنْ يَا إِبْرَاهِيمُ * قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَا ۚ إِنَّا كَذَٰلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ
“Dan Kami panggillah dia: ‘Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu.’ Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Ash-Shaffat: 104-105)
Allah tidak membutuhkan darah Ismail, tetapi Dia ingin melihat sejauh mana keikhlasan dan ketaatan hamba-Nya. Dan ketika keikhlasan itu telah terbukti, Allah menggantinya dengan seekor sembelihan yang besar. Ini adalah pelajaran berharga: bahwa keikhlasan akan mendatangkan pertolongan dan ganti yang lebih baik dari Allah.
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Dalam kehidupan kita sebagai akademisi, keikhlasan ini sangatlah penting. Kita mungkin sibuk dengan penelitian, pengajaran, dan pengabdian. Namun, jika semua itu tidak didasari oleh niat yang ikhlas karena Allah, maka nilainya akan berkurang di sisi-Nya. Seorang dosen yang ikhlas akan mengajar bukan karena gaji atau pujian, tetapi karena ingin mencerdaskan umat dan menjalankan amanah ilmu. Seorang peneliti yang ikhlas akan melakukan riset bukan untuk popularitas, tetapi untuk mencari kebenaran dan memberikan manfaat bagi manusia.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى
“Sesungguhnya amal itu tergantung pada niatnya, dan sesungguhnya setiap orang hanya mendapatkan apa yang ia niatkan.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadits ini adalah tiang agama dalam masalah keikhlasan. Maka, marilah kita selalu periksa niat kita. Apakah kita hadir di majelis ini, apakah kita menuntut ilmu, apakah kita bekerja, semata-mata karena Allah? Ataukah ada kepentingan duniawi yang menyelinap?
Kisah Nabi Ibrahim dan Ismail mengajarkan bahwa keikhlasan harus diuji. Ujian itu bisa berupa pengorbanan harta, waktu, tenaga, bahkan perasaan. Namun, yakinlah bahwa Allah tidak akan membiarkan hamba-Nya yang ikhlas. Dia akan memberikan jalan keluar dan balasan yang berlipat ganda.
Marilah kita tutup khutbah pertama ini dengan merenungkan firman Allah:
وَمَنْ يُسْلِمْ وَجْهَهُ إِلَى اللَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَىٰ ۗ وَإِلَى اللَّهِ عَاقِبَةُ الْأُمُورِ
“Dan barangsiapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia orang yang berbuat kebaikan, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang kokoh. Dan hanya kepada Allah-lah kesudahan segala urusan.” (QS. Luqman: 22)
Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang ikhlas dan istiqamah di jalan-Nya.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
KHUTBAH II
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ. اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ أَحْوَالَ الْمُسْلِمِيْنَ فِي كُلِّ مَكَانٍ، وَارْفَعْ عَنْهُمُ الْبَلَاءَ وَالْفِتَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ. اَللّٰهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الْمُخْلِصِيْنَ الَّذِيْنَ يُقَدِّمُوْنَ رِضَاكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْ