Kategori

Ramadhan

Kumpulan khutbah pilihan dengan tema Ramadhan, anda dapat membaca materi khutbah pilihan dengan Gratis.

Decoration
Ramadhan
10 Februari 2026 (17:56)

Pentingnya sabar dalam menghadapi ujian

KHUTBAH I

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا وَحَبِيْبِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ، وَقَالَ اللهُ تَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Ketakwaan adalah bekal terbaik untuk menghadapi segala liku-liku kehidupan.

Hadirin jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Hidup di dunia ini tidak pernah lepas dari ujian. Allah Ta’ala berfirman:

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ أُولَٰئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ

"Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata, ‘Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn’ (sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali). Mereka itulah yang mendapat keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk." (QS. Al-Baqarah: 155-157)

Ayat ini dengan gamblang menyatakan bahwa ujian adalah sunnatullah, ketetapan yang pasti berlaku. Tidak ada seorang pun yang bebas dari cobaan, baik berupa rasa takut, kesulitan ekonomi, kehilangan orang yang dicintai, atau kegagalan dalam usaha. Namun, Allah tidak sekadar memberitahu tentang ujian. Dia memberikan solusi dan kabar gembira yang agung: kesabaran.

Apa hakikat sabar? Sabar bukanlah sikap pasif, menyerah, dan berpangku tangan. Sabar adalah kekuatan aktif untuk menahan diri dari keluh kesah, mengendalikan lisan dari mengumpat takdir, dan menjaga hati dari kemarahan kepada Allah. Sabar adalah keteguhan hati dalam menjalankan ketaatan, menjauhi kemaksiatan, dan menerima ketetapan (qadha) yang terasa pahit.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:

عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

"Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Seluruh urusannya adalah baik, dan itu tidak dimiliki kecuali oleh seorang mukmin. Jika mendapatkan kesenangan, ia bersyukur, maka itu baik baginya. Dan jika tertimpa kesusahan, ia bersabar, maka itu baik baginya." (HR. Muslim)

Inilah kunci kebahagiaan sejati seorang mukmin. Ia memandang segala sesuatu dengan kacamata iman. Musibah bukanlah akhir segalanya, tetapi sebuah proses pembersihan dosa, peningkatan derajat, dan ujian keimanan. Sabar dalam musibah akan menghapuskan dosa. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:

مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا حُزْنٍ وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ

"Tidaklah seorang muslim tertimpa suatu kelelahan, penyakit, kecemasan, kesedihan, gangguan, dan kesusahan, hingga duri yang menusuknya, melainkan Allah akan menghapuskan dosa-dosanya dengan sebab itu." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Oleh karena itu, jamaah Jumat yang mulia, ketika ujian datang menghampiri—entah itu sakit, kehilangan pekerjaan, perselisihan keluarga, atau musibah lainnya—ingatlah bahwa ini adalah ladang pahala. Tahanlah lisan dari mengeluh kepada manusia, tetapi curahkanlah keluh kesah hanya kepada Allah dalam sujud dan doa. Ucapkanlah kalimat istirja’ (Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un), karena itu adalah tanda kesabaran yang Allah janjikan pahala dan rahmat-Nya.

Penutup Khutbah I:

Demikian, betapa agungnya kedudukan sabar. Ia adalah perisai bagi seorang mukmin dan kendaraan yang akan membawanya menuju keridhaan Allah. Mari kita latih diri kita untuk selalu bersabar.

وَقَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

"Dan Allah Ta’ala berfirman: 'Wahai orang-orang yang beriman! Bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung.'" (QS. Ali ‘Imran: 200)

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

KHUTBAH II

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ.

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ. اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِيْنَنَا الَّذِيْ هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا الَّتِيْ فِيْهَا مَعَاشُنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِيْ إِلَيْهَا مَعَادُنَا، وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فِيْ كُلِّ خَيْرٍ، وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ شَرٍّ. اَللّٰهُمَّ ارْزُقْنَا الصَّبْرَ عَلَى بَلَائِكَ حَتَّى نَلْقَاكَ وَنَحْنُ عَنْكَ رَاضُوْنَ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. اُذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَاسْأَلُوهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ، وَاللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.

Decoration
Ramadhan
11 Februari 2026 (10:51)

Keutamaan Memberi Makan Orang Berpuasa

KHUTBAH I

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، سَيِّدِنَا وَنَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ، وَطَاعَتِهِ فِي السِّرِّ وَالْعَلَانِيَةِ، قَالَ اللهُ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan sebenar-benarnya. Takwa yang bukan hanya di lisan, tetapi meresap ke dalam hati, terpancar dalam amal, dan menjadi pakaian kita di setiap waktu. Salah satu jalan untuk meraih ketakwaan adalah dengan memperbanyak amal kebajikan, terlebih di bulan yang mulia ini, bulan Ramadhan.

Hadirin jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Di antara amalan yang sangat agung dan memiliki keutamaan yang luar biasa adalah memberi makan orang yang berpuasa. Amalan ini adalah pintu kebaikan yang sangat lebar, yang pahalanya tidak hanya didapat oleh orang yang berpuasa, tetapi juga oleh orang yang memberinya makan.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam telah menjelaskan keutamaan ini dalam sabda beliau yang mulia:

مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لَا يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا

“Barangsiapa yang memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun.” (HR. At-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan dishahihkan oleh Al-Albani)

Bayangkan, wahai kaum muslimin! Pahala puasa seharian penuh, dengan segala lapar, dahaga, dan penahanan diri dari hal-hal yang membatalkan, juga menjadi milik kita hanya dengan memberikan sesuap makanan atau minuman untuk berbuka. Ini adalah kemurahan Allah yang sangat besar. Kita diberi kesempatan untuk mengumpulkan pahala sebanyak-banyaknya dengan cara yang mudah dan penuh berkah.

Keutamaan ini tidak terbatas pada makanan yang mewah atau banyak. Nilainya terletak pada ketulusan dan niat karena Allah. Sebuah kurma, seteguk air, atau sepiring makanan sederhana, jika diberikan dengan ikhlas untuk membantu saudara seiman menyempurnakan ibadah puasanya, maka itu sudah cukup untuk meraih janji pahala yang besar ini.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَيُطْعِمُونَ الطَّعَامَ عَلَىٰ حُبِّهِ مِسْكِينًا وَيَتِيمًا وَأَسِيرًا . إِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللَّهِ لَا نُرِيدُ مِنكُمْ جَزَاءً وَلَا شُكُورًا

“Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim, dan tawanan. (Sambil berkata), ‘Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah karena mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak mengharap balasan dan terima kasih dari kamu.’” (QS. Al-Insan: 8-9)

Ayat ini menggambarkan akhlak orang-orang yang bertakwa. Mereka memberi bukan untuk pamer, bukan untuk dihormati, tetapi semata-mata karena cinta kepada Allah. Inilah ruh dari memberi makan orang yang berpuasa. Ibadah puasa mengajarkan kita solidaritas dan empati. Saat kita merasakan lapar, kita teringat akan saudara-saudara kita yang mungkin lapar setiap hari bukan karena ibadah, tetapi karena kemiskinan. Maka, memberi mereka berbuka adalah bentuk nyata dari solidaritas itu.

Hadirin yang dimuliakan Allah,

Memberi makan orang yang berpuasa juga merupakan sebab diampuninya dosa dan dibebaskan dari api neraka. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:

إِنَّ فِي الْجَنَّةِ غُرَفًا يُرَى ظَاهِرُهَا مِنْ بَاطِنِهَا، وَبَاطِنُهَا مِنْ ظَاهِرِهَا، أَعَدَّهَا اللَّهُ لِمَنْ أَطْعَمَ الطَّعَامَ، وَأَلَانَ الْكَلَامَ، وَتَابَعَ الصِّيَامَ، وَصَلَّى بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ

“Sesungguhnya di surga terdapat kamar-kamar yang luarnya terlihat dari dalamnya, dan dalamnya terlihat dari luarnya. Allah menyediakannya bagi orang yang memberi makan, berkata lembut, berpuasa (sunah) secara rutin, dan shalat di malam hari saat orang-orang tidur.” (HR. Ahmad dan dishahihkan oleh Al-Albani)

Lihatlah, amalan memberi makan disejajarkan dengan shalat malam dan puasa sunah. Ia adalah jalan menuju kemuliaan di sisi Allah dan meraiik tempat-tempat tinggi di surga.

Oleh karena itu, marilah kita berlomba-lomba dalam kebaikan ini. Jadikan rumah kita terbuka untuk tetangga yang mungkin kesulitan. Sediakan takjil sederhana di masjid untuk musafir atau orang yang bekerja. Bantulah program-program sosial yang menyediakan makanan berbuka bagi yang membutuhkan. Niatkan semata untuk Allah, dan yakinlah bahwa balasan dari Allah jauh lebih besar daripada apa yang kita berikan.

وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ ۖ وَسَتُرَدُّونَ إِلَىٰ عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

“Dan katakanlah, ‘Bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu, begitu juga Rasul-Nya dan orang-orang mukmin, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.’” (QS. At-Taubah: 105)

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

KHUTBAH II

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدَّعَوَاتِ. اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِينَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِينَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّينِ، وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُوَحِّدِينَ. اللَّهُمَّ أَصْلِحْ أَحْوَالَ الْمُسْلِمِينَ فِي كُلِّ مَكَانٍ، اللَّهُمَّ وَفِّقْ وُلَاةَ أُمُورِهِمْ لِمَا تُحِبُّ وَتَرْضَى، وَخُذْ بِنَاصِيَتِهِمْ إِلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَاسْأَلُوهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ وَاللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.

Decoration
Ramadhan
15 Februari 2026 (13:22)

Ramadhan Semakin Dekat, Amal Ibadah Semakin Meningkat

KHUTBAH JUM’AT

Ramadhan Semakin Dekat, Amal Ibadah Semakin Meningkat

KHUTBAH PERTAMA

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ نَحْمَدُهُ حَمْدًا كَثِيْرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيْهِ، نَحْمَدُهُ عَلَى نِعْمَةِ الْإِيْمَانِ وَالْإِسْلَامِ، وَنَشْكُرُهُ عَلَى فَضْلِهِ وَإِحْسَانِهِ.
وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللّٰهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.
اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللّٰهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah
Saya berwasiat kepada diri saya sendiri dan kepada jamaah sekalian, marilah kita tingkatkan ketakwaan kepada Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā dengan sebenar-benar takwa, menjalankan seluruh perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.

Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah, 
Waktu terus berjalan, hari demi hari berlalu, dan tanpa terasa bulan suci Ramadhan semakin dekat. Bulan yang penuh keberkahan, bulan ampunan, bulan rahmat, dan bulan pembebasan dari api neraka.

Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ
(سورة البقرة: ١٨٣)

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa.”

Ayat ini menegaskan bahwa tujuan utama Ramadhan adalah melahirkan ketakwaan, bukan sekadar menahan lapar dan dahaga. Maka, ketika Ramadhan semakin dekat, seharusnya amal ibadah kita juga semakin meningkat, bukan justru tetap atau bahkan menurun.

Para ulama terdahulu mempersiapkan diri menghadapi Ramadhan jauh-jauh hari. Mereka membersihkan hati dengan taubat, melatih diri dengan ibadah sunnah, dan memperbanyak amal shalih.

Rasulullah ﷺ bersabda:
أَتَاكُمْ رَمَضَانُ شَهْرٌ مُبَارَكٌ، فَرَضَ اللّٰهُ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ، تُفْتَحُ فِيْهِ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ، وَتُغْلَقُ فِيْهِ أَبْوَابُ الْجَحِيْمِ
(رواه النسائي)

“Telah datang kepada kalian bulan Ramadhan, bulan yang penuh berkah. Allah mewajibkan atas kalian berpuasa di dalamnya, pintu-pintu surga dibuka dan pintu-pintu neraka ditutup.”

Jika pintu surga sudah dibuka, maka sangat merugi orang yang tidak berusaha masuk ke dalamnya dengan amal ibadah.

Jamaah rahimakumullah,
Menyambut Ramadhan bukan hanya dengan spanduk dan ucapan, tetapi dengan peningkatan amal ibadah, di antaranya:

Memperbaiki dan menjaga shalat, terutama shalat berjamaah di masjid.
Memperbanyak membaca Al-Qur’an, karena Ramadhan adalah bulan Al-Qur’an.
Memperbanyak dzikir dan istighfar, membersihkan hati dari dosa dan kelalaian.
Melatih puasa sunnah, agar tubuh dan jiwa siap menyambut puasa Ramadhan.
Menjaga lisan dan akhlak, karena puasa sejati bukan hanya menahan makan dan minum, tetapi juga menahan diri dari dosa.

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّوْرِ وَالْعَمَلَ بِهِ، فَلَيْسَ لِلّٰهِ حَاجَةٌ فِيْ أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ
(رواه البخاري)

“Barang siapa tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan buruk, maka Allah tidak butuh ia meninggalkan makan dan minumnya.”

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah
Mari kita jadikan sisa waktu sebelum Ramadhan sebagai waktu pemanasan iman, agar ketika Ramadhan tiba kita sudah siap lahir dan batin, dan keluar dari Ramadhan dalam keadaan dosa-dosa diampuni.

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

KHUTBAH KEDUA

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ حَمْدًا كَثِيْرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيْهِ، كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى.
اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.
اتَّقُوا اللّٰهَ، وَاسْتَعِدُّوْا لِرَمَضَانَ بِالْإِيْمَانِ وَالْعَمَلِ الصَّالِحِ

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah
Sekali lagi marilah kita bertakwa kepada Allah dan bersungguh-sungguh mempersiapkan diri menyambut Ramadhan dengan amal terbaik..

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.
اَللّٰهُمَّ بَلِّغْنَا شَهْرَ رَمَضَانَ، وَأَعِنَّا فِيْهِ عَلَى الصِّيَامِ وَالْقِيَامِ وَتِلَاوَةِ الْقُرْآنِ.
اَللّٰهُمَّ اجْعَلْنَا فِيْ رَمَضَانَ مِنَ الْمَغْفُوْرِ لَهُمْ، وَمِنَ الْمَرْحُوْمِيْنَ، وَمِنَ الْمُعْتَقِيْنَ مِنَ النَّارِ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللّٰهِ، إِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ، وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ.

Decoration
Ramadhan
23 Februari 2026 (19:50)

Keutamaan 10 Hari di Awal Bulan Ramadhan

KHUTBAH I

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا وَحَبِيْبِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan sebenar-benarnya. Takwa adalah bekal terbaik, perisai yang melindungi, dan jalan menuju kemuliaan di dunia dan akhirat.

Hadirin jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Kita telah memasuki bulan yang penuh berkah, bulan Ramadhan. Sebuah madrasah ruhani yang Allah sediakan untuk kita. Bagi para akademisi, bulan ini adalah laboratorium agung untuk menguji dan meningkatkan kualitas keimanan, sekaligus momentum untuk merenungkan tanda-tanda kebesaran Allah dalam setiap ilmu yang kita pelajari. Pada khutbah kali ini, kita akan menyelami satu keistimewaan khusus dalam bulan ini, yaitu keutamaan sepuluh hari pertama Ramadhan.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam telah memberikan gambaran yang indah tentang fase-fase dalam Ramadhan. Beliau bersabda:

أَوَّلُهُ رَحْمَةٌ، وَأَوْسَطُهُ مَغْفِرَةٌ، وَآخِرُهُ عِتْقٌ مِنَ النَّارِ 

“Awal bulan Ramadhan adalah rahmat, pertengahannya adalah ampunan, dan akhirnya adalah pembebasan dari api neraka.” (Hadits riwayat Ibnu Khuzaimah, dishahihkan Al-Albani).

Sepuluh hari pertama adalah fase “Rahmah” (رَحْمَةٌ). Rahmat Allah yang melimpah turun, pintu-pintu langit dibuka lebar, pintu-pintu surga dibuka, dan pintu-pintu neraka ditutup. Ini adalah kesempatan emas untuk mengejar pahala dan mendekat kepada Dzat Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Bagi seorang akademisi, konsep “rahmat” ini bisa kita renungkan lebih dalam. Rahmat Allah dalam ilmu adalah pemahaman yang benar (al-fahm), kemudahan dalam menelaah (al-yusr), dan ketepatan dalam mengambil kesimpulan (as-sawab). Di sepuluh hari pertama ini, kita memohon agar Allah membukakan rahmat-Nya dalam setiap ilmu yang kita tekuni, sehingga ilmu itu membawa kita semakin dekat kepada-Nya, bukan menjauhkan.

Keutamaan lain dari hari-hari awal Ramadhan adalah semangat yang masih menggebu. Ini adalah modal berharga. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dan para sahabat sangat bersemangat dalam beribadah di bulan ini. Mari kita jadikan momentum awal ini untuk membangun kebiasaan (habit) ibadah yang kuat: tilawah yang konsisten, shalat malam yang khusyuk, sedekah yang tulus, dan menahan diri dari segala hal yang sia-sia.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ 

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” (QS. Ali ‘Imran: 133).

Ayat ini memerintahkan untuk “bersegera”. Sepuluh hari pertama adalah waktu yang tepat untuk menerapkan “as-suru’” (bersegera) dalam kebaikan. Jangan menunda-nunda tilawah, jangan menunda qiyamul lail, jangan menunda sedekah. Seorang penuntut ilmu paham betul bahwa keberhasilan seringkali ditentukan oleh konsistensi di awal.

Oleh karena itu, jamaah yang budiman, mari kita manfaatkan betul sepuluh hari pertama ini. Isi dengan:

  1. Target Tilawah yang jelas dan terukur.
  2. Memperbanyak Doa, karena doa orang yang berpuasa mustajab.
  3. Memperbanyak Sedekah, karena Rasulullah adalah orang yang paling dermawan, dan lebih lagi di bulan Ramadhan.
  4. Menjaga Lisan dan Pandangan dari hal-hal yang mengurangi pahala puasa.

Marilah kita tutup khutbah pertama ini dengan firman Allah:

وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

Dan barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh ia telah mendapat kemenangan yang besar.” (QS. Al-Ahzab: 71).

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

KHUTBAH II

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدُّعَاءِ. اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِينَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِينَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّينِ، وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُوَحِّدِينَ. اللَّهُمَّ أَصْلِحْ أَحْوَالَ الْمُسْلِمِينَ فِي كُلِّ مَكَانٍ، اللَّهُمَّ وَفِّقْ وُلَاةَ أُمُورِهِمْ لِمَا تُحِبُّ وَتَرْضَى، وَخُذْ بِنَوَاصِيهِمْ لِلْبِرِّ وَالتَّقْوَى. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. وَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ.

Decoration
Ramadhan
28 Februari 2026 (14:06)

Hal yang mengurangi pahala puasa ramadhan

KHUTBAH I

الْحَمْدُ لِلَّهِ الْعَلِيِّ الْأَعْلَى، خَلَقَ فَسَوَّى، وَقَدَّرَ فَهَدَى، وَأَخْرَجَ الْمَرْعَى، فَجَعَلَهُ غُثَاءً أَحْوَى. نَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ عَلَى نِعَمٍ لَا تُحْصَى، وَنَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَنَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيمًا كَثِيرًا. أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، وَطَاعَتِهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ. قَالَ اللَّهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيمِ: > يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Takwa adalah bekal terbaik menuju kebahagiaan dunia dan akhirat.

Hadirin jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Bulan Ramadhan adalah bulan yang penuh berkah, bulan di mana pahala dilipatgandakan, pintu surga dibuka lebar, dan pintu neraka ditutup rapat. Kita bersyukur telah dipertemukan kembali dengan bulan yang mulia ini. Namun, perlu kita sadari bersama bahwa ibadah puasa kita tidak hanya diukur dari sekedar menahan lapar dan dahaga dari terbit fajar hingga terbenam matahari. Ada hakikat dan ruh puasa yang harus kita jaga, yaitu ketakwaan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

“Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan mengamalkannya, maka Allah tidak butuh terhadap ia meninggalkan makan dan minumnya.” (HR. Bukhari)

Hadits yang mulia ini memberikan peringatan yang sangat keras. Puasa kita bisa menjadi sia-sia, tidak bernilai di sisi Allah, jika kita masih membiarkan lisan kita berkata dusta, menggunjing, mengadu domba, atau berkata kotor. Inilah hal pertama yang dapat mengurangi, bahkan menghilangkan pahala puasa: tidak menjaga lisan.

Lisan adalah anggota badan yang kecil, namun dampaknya sangat besar. Di bulan Ramadhan, kita dilatih untuk mengendalikan hawa nafsu, dan lisan adalah salah satu nafsu yang paling sulit dikendalikan. Berapa banyak pertengkaran, perselisihan, dan sakit hati yang bermula dari lisan yang tidak terjaga? Puasa seharusnya menjadikan kita lebih sabar, lebih lembut, dan lebih berhati-hati dalam berkata-kata.

Hal kedua yang dapat mengurangi pahala puasa adalah melakukan perbuatan maksiat dengan anggota badan lainnya. Mata yang masih liar melihat hal-hal yang diharamkan, telinga yang masih mendengarkan ghibah dan lagu-lagu yang melalaikan, tangan yang masih mengambil hak orang lain atau berbuat zalim, kaki yang masih melangkah ke tempat-tempat maksiat. Semua ini bertentangan dengan spirit puasa. Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ وَمَنْ يَتَّبِعْ خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ فَإِنَّهُ يَأْمُرُ بِالْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Barangsiapa mengikuti langkah-langkah setan, maka sesungguhnya setan itu menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan mungkar.” (QS. An-Nur: 21)

Puasa adalah perisai. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

الصِّيَامُ جُنَّةٌ، فَإِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلَا يَرْفُثْ وَلَا يَصْخَبْ، فَإِنْ سَابَّهُ أَحَدٌ أَوْ قَاتَلَهُ فَلْيَقُلْ: إِنِّي صَائِمٌ

“Puasa adalah perisai. Maka apabila salah seorang dari kalian sedang berpuasa, janganlah ia berkata kotor dan berteriak-teriak. Jika ada orang yang mencacinya atau memeranginya, maka hendaklah ia mengatakan, ‘Sesungguhnya aku sedang berpuasa.’” (HR. Bukhari dan Muslim)

Perhatikanlah, hadits ini mengajarkan kita untuk menggunakan puasa sebagai tameng, bukan sebagai alasan untuk marah, tetapi justru sebagai pengingat untuk menahan diri. Jika ada yang mencaci, ingatlah bahwa kita sedang berpuasa, maka kita harus menahan emosi dan membalas dengan kebaikan atau diam. Inilah puasa yang sesungguhnya.

Hal ketiga yang dapat mengurangi pahala puasa adalah niat yang tidak ikhlas. Puasa yang dilakukan karena ingin dipuji orang (riya’), atau sekadar mengikuti tradisi, tanpa mengharap wajah Allah, maka ia akan kehilangan ruhnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda dalam hadits qudsi:

قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلَّا الصِّيَامَ، فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ

“Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: ‘Setiap amalan anak Adam adalah untuknya, kecuali puasa. Sesungguhnya puasa itu untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya.’” (HR. Bukhari)

Keikhlasan adalah ruh dari setiap ibadah. Jagalah niat kita, perbaharui di setiap saat, bahwa puasa ini semata-mata karena Allah, untuk meraih takwa dan ampunan-Nya.

Hadirin yang dimuliakan Allah,

Marilah kita evaluasi puasa kita. Apakah kita hanya mendapatkan lapar dan dahaga, atau kita benar-benar meraih ketakwaan? Jangan sampai kita termasuk orang yang disebut Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الْجُوعُ وَالْعَطَشُ

“Betapa banyak orang yang berpuasa, bagiannya dari puasanya hanyalah lapar dan dahaga.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah, hasan)

Maka, mari kita jaga puasa kita dari hal-hal yang merusak dan mengurangi pahalanya. Kita jaga lisan, kita kendalikan pandangan dan pendengaran, kita tahan tangan dari berbuat zalim, dan kita ikhlaskan niat hanya untuk Allah Ta’ala.

بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ. أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.

KHUTBAH II

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيمًا كَثِيرًا. أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدَّعَوَاتِ. اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِينَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِينَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّينِ، وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُوَحِّدِينَ. اللَّهُمَّ أَصْلِحْ أَحْوَالَ الْمُسْلِمِينَ فِي كُلِّ مَكَانٍ، اللَّهُمَّ وَفِّقْ وُلَاةَ أُمُورِهِمْ لِمَا تُحِبُّ وَتَرْضَى، وَخُذْ بِنَوَاصِيهِمْ إِلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى. اللَّهُمَّ اجْعَلْ هَذَا الْبَلَدَ وَسَائِرَ بِلَادِ الْمُسْلِمِينَ آمِنَةً مُطْمَئِنَّةً، وَارْزُقْ أَهْلَهَا مِنْ فَضْلِكَ رِزْقًا حَلَالًا طَيِّبًا وَاسِعًا. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. عِبَادَ اللَّهِ: > إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

وَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ، وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.

Decoration
Ramadhan
02 Maret 2026 (18:56)

Keutamaan 10 hari pertengahan bulan ramadhan

KHUTBAH I

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، سَيِّدِنَا وَنَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى: يٰٓأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan sebenar-benarnya. Takwa adalah perisai yang melindungi kita dari murka-Nya dan bekal utama menuju kebahagiaan dunia dan akhirat.

Hadirin jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Kita saat ini tengah berada di dalam bulan yang penuh berkah, bulan Ramadhan. Bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an, bulan pengampunan, bulan pembebasan dari api neraka. Jika sepuluh hari pertama adalah rahmat, maka sepuluh hari pertengahan yang kita masuki ini adalah maghfirah, ampunan dari Allah.

Keutamaan hari-hari ini sangatlah agung. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:

أَوَّلُ شَهْرِ رَمَضَانَ رَحْمَةٌ، وَأَوْسَطُهُ مَغْفِرَةٌ، وَآخِرُهُ عِتْقٌ مِنَ النَّارِ 

“Awal bulan Ramadhan adalah rahmat, pertengahannya adalah maghfirah (ampunan), dan akhirnya adalah pembebasan dari api neraka.” (Hadits riwayat Ibnu Hibban, dishahihkan Al-Albani)

Inilah peluang emas yang Allah berikan. Pintu ampunan dibuka selebar-lebarnya. Allah ‘Azza wa Jalla memanggil hamba-hamba-Nya di malam hari, “Adakah orang yang meminta, pasti Aku beri. Adakah orang yang berdoa, pasti Aku kabulkan. Adakah orang yang memohon ampun, pasti Aku ampuni.”

Maka, di sepuluh hari ini, perbanyaklah istighfar. Ucapkanlah:

أَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ الَّذِي لَا إِلٰهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّوْمُ وَأَتُوْبُ إِلَيْهِ 

“Aku memohon ampun kepada Allah Yang Maha Agung, tiada Tuhan yang berhak disembah selain Dia, Yang Maha Hidup lagi Maha Berdiri Sendiri, dan aku bertaubat kepada-Nya.”

Perbanyaklah shalawat, sedekah, dan tilawah Al-Qur’an. Jangan sia-siakan momen ini dengan kelalaian. Barangsiapa yang tidak diampuni di bulan Ramadhan, maka kapan lagi ia akan diampuni?

Allah Ta’ala berfirman:

وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ 

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” (QS. Ali ‘Imran: 133)

Bersegeralah, wahai jiwa-jiwa yang mendambakan ampunan! Jangan tunda taubat. Perbaiki shalat malammu, kendalikan lisannu, sucikan hatimu dari dengki dan iri. Karena ampunan Allah hanya untuk orang-orang yang bersungguh-sungguh.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

KHUTBAH II

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ. اَللّٰهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ، وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُوَحِّدِيْنَ. اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ أَحْوَالَنَا وَأَحْوَالَ الْمُسْلِمِيْنَ فِيْ كُلِّ مَكَانٍ. اَللّٰهُمَّ احْفَظْ بِلَادَنَا وَبِلَادَ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ سُوْءٍ وَمَكْرُوْهٍ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ