Kumpulan Teks Khutbah Jumat

Cari dan temukan materi khutbah Jum'at terbaik, disusun berdasarkan tema dan momen penting.

Decoration
Syawal
26 Maret 2026 (13:38)

Puasa Sunnah di bulan Syawal

NASKAH KHUTBAH JUMAT: PUASA SUNNAH DI BULAN SYAWAL

KHUTBAH I

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا وَحَبِيْبِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. أَمَّا بَعْدُ: فَيَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ.

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan sebenar-benarnya takwa. Takwa yang tidak hanya sebatas ucapan, tetapi meresap ke dalam hati, terpancar dalam amal perbuatan, dan menjadi benteng dari segala kemaksiatan. Hanya dengan takwalah kita akan meraih kemuliaan di dunia dan keselamatan di akhirat.

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Baru saja kita meninggalkan bulan yang penuh berkah, bulan Ramadhan. Bulan di mana kita dilatih untuk menahan diri, meningkatkan ibadah, dan mendekatkan diri kepada Allah. Namun, janganlah kita merasa bahwa hubungan intens dengan Allah hanya berlangsung selama Ramadhan. Ibadah dan ketaatan harus terus berlanjut. Salah satu pintu yang Allah buka untuk kita agar tetap terhubung dengan kemuliaan Ramadhan adalah melalui puasa sunnah di bulan Syawal.

Puasa enam hari di bulan Syawal memiliki keutamaan yang sangat agung. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ

“Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan kemudian mengikutinya dengan puasa enam hari di bulan Syawal, maka ia seperti berpuasa setahun penuh.” (HR. Muslim)

Inilah keutamaan yang luar biasa. Satu kebaikan dilipatgandakan sepuluh kali. Puasa Ramadhan (30 hari) setara dengan 300 hari. Puasa enam hari di Syawal setara dengan 60 hari. Jika dijumlahkan, menjadi 360 hari, mendekati satu tahun penuh (355/356 hari dalam kalender Hijriyah). Ini adalah karunia dan kemudahan dari Allah bagi hamba-Nya yang ingin mengejar pahala.

Jamaah yang berbahagia,

Puasa Syawal ini adalah ibadah yang sangat dianjurkan, meskipun hukumnya sunnah. Ia bagaikan penyempurna dan pengikat bagi puasa Ramadhan kita. Ia menunjukkan bahwa kita bersyukur atas taufik Allah yang telah memampukan kita menyelesaikan Ramadhan, dan kita rindu untuk terus beribadah kepada-Nya. Puasa ini juga menjadi tanda diterimanya puasa Ramadhan kita, karena salah satu tanda diterimanya suatu ibadah adalah dilanjutkan dengan ibadah lainnya.

Tidak ada ketentuan harus berurutan. Puasa enam hari ini boleh dilakukan secara berurutan di awal Syawal, atau berselang-seling sepanjang bulan Syawal, sesuai dengan kemampuan dan kesibukan masing-masing. Yang penting, niatkan dengan ikhlas karena Allah semata, dan tunaikan sebelum bulan Syawal berakhir.

Namun, perlu diingat, bagi yang masih memiliki hutang puasa Ramadhan, wajib hukumnya untuk mengqadha’nya terlebih dahulu. Setelah itu, barulah mengerjakan puasa sunnah Syawal. Mengqadha’ puasa Ramadhan lebih diutamakan daripada puasa sunnah Syawal, karena yang wajib harus didahulukan daripada yang sunnah.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung.” (QS. Ali ‘Imran: 200)

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

KHUTBAH II

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. أَمَّا بَعْدُ: فَاتَّقُوا اللهَ وَأَطِيْعُوْهُ.

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ. اَللّٰهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ، وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُوَحِّدِيْنَ. اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ أَحْوَالَنَا وَأَحْوَالَ الْمُسْلِمِيْنَ فِيْ كُلِّ مَكَانٍ. اَللّٰهُمَّ احْفَظْ بِلَادَنَا وَبِلَادَ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ مَكْرُوْهٍ وَسُوْءٍ. اَللّٰهُمَّ ارْزُقْنَا الْعِلْمَ النَّافِعَ وَالْعَمَلَ الصَّالِحَ وَالرِّزْقَ الطَّيِّبَ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

Decoration
Idul Fitri
18 Maret 2026 (02:53)

Menjaga Kualitas Ibadah Setelah Meninggalkan Ramadhan

KHUTBAH I

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَالْعَمَلِ بِطَاعَتِهِ، وَاجْتِنَابِ مَعْصِيَتِهِ. فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan sebenar-benarnya. Takwa yang tidak hanya di lisan, tetapi meresap ke dalam hati, terpancar dalam amal, dan menjadi pakaian kita setiap saat, di bulan Ramadhan maupun di luar Ramadhan.

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Baru saja kita meninggalkan bulan yang mulia, bulan Ramadhan. Bulan yang penuh dengan latihan intensif ibadah, pengendalian diri, dan pembersihan jiwa. Di dalamnya, kita berlomba-lomba mengejar pahala, memperbanyak tilawah, qiyamullail, sedekah, dan amal kebajikan lainnya. Suasana spiritual begitu terasa, semangat beribadah begitu membara. Namun, pertanyaan besar yang harus kita renungkan sekarang adalah: Bagaimana kualitas ibadah kita setelah Ramadhan berlalu?

Apakah kita termasuk golongan yang ibadahnya hanya musiman, bagai bunga yang mekar di musim semi lalu layu dan mati? Ataukah kita termasuk golongan yang berhasil memetik buah dari madrasah Ramadhan, sehingga ibadah kita setelahnya justru lebih baik, lebih ikhlas, dan lebih berkualitas?

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ 

“Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu kematian.” (QS. Al-Hijr: 99)

Ayat ini adalah prinsip dasar. Ibadah bukanlah kegiatan temporer, tetapi sebuah komitmen sepanjang hayat. Ramadhan adalah terminal pengisian bahan bakar spiritual untuk perjalanan panjang sebelas bulan ke depan. Ia adalah momentum untuk membangun kebiasaan (habit) positif yang harus kita pertahankan.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:

أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ 

“Amal yang paling dicintai Allah Ta’ala adalah amal yang terus-menerus (dilakukan) walaupun sedikit.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Inilah kunci menjaga kualitas ibadah pasca-Ramadhan: istiqamah dan konsistensi. Lebih baik shalat sunnah dua rakaat yang kita jaga setiap hari, daripada shalat malam berjam-jam hanya di bulan Ramadhan lalu kita tinggalkan sama sekali. Lebih baik sedekah rutin sepuluh ribu rupiah setiap Jumat, daripada sedekah jutaan rupiah hanya di bulan Ramadhan lalu kita berhenti.

Jamaah yang berbahagia,

Ada beberapa hal yang perlu kita jaga agar kualitas ibadah kita tidak turun drastis setelah Ramadhan:

Pertama: Menjaga Kualitas Shalat. Di Ramadhan, kita terbiasa shalat berjamaah di masjid, khusyuk, dan tepat waktu. Jangan biarkan kebiasaan ini hilang. Shalat adalah tiang agama. Jagalah ia dengan menyempurnakan wudhu, menghadirkan hati, dan berusaha berjamaah di masjid. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:

صَلَاةُ الْجَمَاعَةِ تَفْضُلُ صَلَاةَ الْفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِينَ دَرَجَةً 

“Shalat berjamaah itu lebih utama daripada shalat sendirian dengan dua puluh tujuh derajat.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Kedua: Menjaga Hubungan dengan Al-Qur’an. Di Ramadhan, kita akrab dengan Al-Qur’an, tilawah, tadabbur, bahkan khatam. Jangan biarkan mushaf kita berdebu. Tetapkan target tilawah harian yang realistis, misalnya satu halaman atau satu juz per minggu, yang penting kontinu. Allah berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنْفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَنْ تَبُورَ 

“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah (Al-Qur’an) dan melaksanakan shalat dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka mengharapkan perdagangan yang tidak akan pernah rugi.” (QS. Fathir: 29)

Ketiga: Menjaga Lisan dan Hati dari Dosa. Puasa mengajarkan kita untuk menahan diri dari segala yang membatalkan dan mengurangi pahalanya. Setelah Ramadhan, tahanan itu jangan dilepaskan. Teruslah menjaga lisan dari ghibah, dusta, dan perkataan sia-sia. Jagalah hati dari iri, dengki, dan kebencian. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ 

“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah dia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Keempat: Menjaga Semangat Sedekah dan Berbagi. Ramadhan memompa semangat kedermawanan. Lanjutkanlah! Sedekah tidak hanya mengalirkan pahala, tetapi juga membersihkan harta dan menolak bala. Jadikan sedekah sebagai gaya hidup, bukan hanya di bulan tertentu.

Kelima: Menjaga Qiyamullail (Shalat Malam). Shalat Tarawih adalah latihan qiyamullail. Cobalah untuk tetap bangun malam meski hanya dua rakaat sebelum shubuh. Rasakan kedekatan dengan Allah di sepertiga malam terakhir.

Intinya, jadikan Ramadhan sebagai starting point, bukan finishing point. Ibadah kita harus naik kelas, tidak boleh stagnan apalagi turun. Evaluasi diri: Amal apa yang kita tingkatkan di Ramadhan? Pilihlah satu atau dua amal utama untuk kita pertahankan dengan konsisten sebelas bulan ke depan.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۚ وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ 

“Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh (berjihad) untuk (mencari keridaan) Kami, Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sungguh, Allah beserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-‘Ankabut: 69)

Marilah kita bersungguh-sungguh (mujahadah) untuk tetap istiqamah. Perjuangan melawan kemalasan dan hawa nafsu pasca-Ramadhan adalah jihad yang sesungguhnya.

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

KHUTBAH II

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ: فَأُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ. اللَّهُمَّ ارْحَمْنَا بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ. اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ، وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُوَحِّدِيْنَ. اللَّهُمَّ أَصْلِحْ أَحْوَالَنَا وَأَحْوَالَ الْمُسْلِمِيْنَ فِي كُلِّ مَكَانٍ. اللَّهُمَّ احْفَظْ بِلَادَنَا وَبِلَادَ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ مَكْرُوْهٍ وَسُوْءٍ. اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الْعَارِفِيْنَ بِفَضْلِ شَهْرِ رَمَضَانَ، الْعَامِلِيْنَ بِمَا فِيْهِ، الْحَافِظِيْنَ لِحَقِيْقَةِ الْعِبَادَةِ بَعْدَهُ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِي

Decoration
Ramadhan
11 Maret 2026 (01:45)

hakekat zakat fitrah

KHUTBAH I

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا وَحَبِيْبِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. أَمَّا بَعْدُ: فَيَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan sebenar-benarnya. Takwa yang tidak hanya di lisan, tetapi membumi dalam amal perbuatan, terlebih di bulan suci Ramadhan yang penuh berkah ini. Salah satu amalan yang mengiringi puasa kita adalah zakat fitrah. Pada kesempatan ini, mari kita renungkan bersama hakikat dari zakat fitrah yang kita tunaikan.

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Zakat fitrah bukan sekadar ritual tahunan atau tradisi turun-temurun. Ia adalah ibadah yang memiliki makna sangat dalam. Secara bahasa, ‘fitrah’ berarti suci, asal kejadian, atau naluri. Zakat ini disebut ‘fitrah’ karena ia menyucikan jiwa orang yang berpuasa dari kelalaian dan kata-kata sia-sia yang mungkin terjadi selama Ramadhan. Ia juga menjadi penyempurna puasa kita.

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ، مَنْ أَدَّاهَا قَبْلَ الصَّلَاةِ فَهِيَ زَكَاةٌ مَقْبُولَةٌ، وَمَنْ أَدَّاهَا بَعْدَ الصَّلَاةِ فَهِيَ صَدَقَةٌ مِنَ الصَّدَقَاتِ. 

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mewajibkan zakat fitrah sebagai penyuci bagi orang yang berpuasa dari perbuatan sia-sia dan kata-kata kotor, dan sebagai makanan bagi orang miskin. Barangsiapa menunaikannya sebelum shalat (Id), maka itu adalah zakat yang diterima. Dan barangsiapa menunaikannya setelah shalat, maka itu hanyalah sedekah biasa.” (HR. Abu Daud, Ibnu Majah, dishahihkan Al-Albani)

Lihatlah, jamaahku, betapa agung tujuan zakat fitrah ini. Pertama, ia adalah ‘thuhrah’, pembersih dan penyuci. Puasa kita yang sebulan penuh, meski telah maksimal, sangat mungkin tercampur dengan kelalaian, ghibah, atau pandangan yang haram. Zakat fitrah inilah yang membersihkan noda-noda kecil tersebut, sehingga puasa kita benar-benar sempurna dan suci.

Kedua, ia adalah ‘thu’mah’, makanan bagi kaum miskin. Inilah dimensi sosial yang sangat nyata. Zakat fitrah memastikan bahwa pada hari raya yang penuh suka cita itu, tidak ada seorang muslim pun yang kelaparan atau merasa kekurangan. Semua bisa merayakan kemenangan dengan perut yang terisi. Ini adalah bentuk solidaritas dan kepedulian yang diajarkan Islam.

Ketiga, zakat fitrah adalah tanda syukur. Ia adalah bentuk syukur kita kepada Allah yang telah memberikan nikmat kesehatan dan kesempatan untuk menyelesaikan ibadah puasa Ramadhan. Dengan mengeluarkan sebagian harta, kita mengakui bahwa semua rezeki adalah milik Allah.

هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُمْ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا 

Dialah (Allah) yang menciptakan segala apa yang ada di bumi untuk kalian. (QS. Al-Baqarah: 29)

Maka, hakikat zakat fitrah adalah ibadah penyucian jiwa, kepedulian sosial, dan wujud syukur, yang semuanya bermuara pada peningkatan ketakwaan kita. Ia adalah bukti nyata bahwa Islam tidak hanya mengurusi hubungan vertikal dengan Allah (hablum minallah), tetapi juga hubungan horizontal dengan sesama manusia (hablum minannas).

Oleh karena itu, tunaikanlah zakat fitrah dengan penuh kesadaran akan maknanya. Keluarkanlah dengan harta yang baik, sesuai takaran yang ditetapkan, dan berikanlah kepada yang berhak, lebih utama sebelum shalat Id dilaksanakan. Jangan sampai kita meremehkannya atau menundanya tanpa alasan yang syar’i.

وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَارْكَعُوا مَعَ الرَّاكِعِينَ 

Dan laksanakanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan rukuklah bersama orang yang rukuk. (QS. Al-Baqarah: 43)

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

KHUTBAH II

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. أَمَّا بَعْدُ: فَاتَّقُوا اللهَ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدَّعَوَاتِ. اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِينَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِينَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّينِ، وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُوَحِّدِينَ. اللَّهُمَّ أَصْلِحْ أَحْوَالَ الْمُسْلِمِينَ فِي كُلِّ مَكَانٍ، اللَّهُمَّ وَفِّقْ وُلَاةَ أُمُورِهِمْ لِمَا تُحِبُّ وَتَرْضَى، وَخُذْ بِنَوَاصِيهِمْ إِلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَاسْأَلُوهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ، وَاللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.

Decoration
Ramadhan
09 Maret 2026 (23:18)

Perbanyak Istighfar di 10 hari terakhir bulan ramadhan

KHUTBAH I

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا وَحَبِيْبِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ، وَطَاعَتِهِ فِي السِّرِّ وَالْعَلَانِيَةِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Takwa yang sejati adalah dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya, baik dalam keadaan sendiri maupun ramai, dalam suka maupun duka. Hanya dengan takwalah kita akan meraih kemuliaan di dunia dan keselamatan di akhirat.

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Kita saat ini tengah berada di sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan. Malam-malam yang penuh berkah, malam-malam yang di dalamnya terdapat satu malam yang lebih baik dari seribu bulan, yaitu Lailatul Qadr. Pada momen yang agung ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan kepada kita satu amalan yang sangat utama, yaitu memperbanyak istighfar.

Istighfar bukan sekadar ucapan lisan, "Astaghfirullah". Ia adalah pengakuan akan kelemahan dan dosa kita sebagai hamba, sekaligus pengakuan akan kemahakuasaan Allah sebagai Dzat Yang Maha Pengampun. Di saat-saat akhir Ramadhan ini, kita diajak untuk melakukan muhasabah, introspeksi diri. Sudah sejauh mana puasa kita meningkatkan ketakwaan? Sudah seberapa banyak amal kebaikan kita? Dan tentu, sudah seberapa banyak dosa dan khilaf yang kita lakukan, baik yang disengaja maupun tidak?

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَمَنْ يَعْمَلْ سُوءًا أَوْ يَظْلِمْ نَفْسَهُ ثُمَّ يَسْتَغْفِرِ اللَّهَ يَجِدِ اللَّهَ غَفُورًا رَحِيمًا

"Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian ia memohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. An-Nisa’: 110)

Ayat ini memberikan jaminan yang sangat menghibur. Betapapun besar dosa kita, selama pintu taubat dan istighfar masih terbuka, selama nafas masih berhembus, maka pintu rahmat Allah juga terbuka lebar. Istighfar adalah kunci untuk membuka pintu rahmat dan ampunan-Nya, terlebih di bulan yang penuh rahmat ini.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, meskipun telah dijamin diampuni semua dosanya yang telah lalu dan yang akan datang, tetap saja beliau sangat banyak beristighfar. Dalam sebuah hadits shahih, beliau bersabda:

وَاللَّهِ إِنِّي لَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ فِي الْيَوْمِ أَكْثَرَ مِنْ سَبْعِينَ مَرَّةً

"Demi Allah, sesungguhnya aku benar-benar beristighfar kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya dalam sehari lebih dari tujuh puluh kali." (HR. Al-Bukhari)

Bayangkan, Nabi yang ma’shum (terjaga dari dosa) saja beristighfar puluhan kali dalam sehari. Lalu bagaimana dengan kita yang setiap hari tak luput dari salah, lalai, dan dosa? Tidakkah kita seharusnya lebih banyak lagi memohon ampun?

Jamaah yang budiman,

Di sepuluh malam terakhir, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengencangkan ikat pinggangnya (bersungguh-sungguh), menghidupkan malamnya, dan membangunkan keluarganya. Salah satu bentuk kesungguhan itu adalah dengan memperbanyak doa dan istighfar. Istighfar pada hakikatnya adalah sebuah doa. Ia adalah permohonan agar Allah menutupi aib kita, mengampuni kesalahan kita, dan melindungi kita dari akibat buruk dosa-dosa tersebut.

Istighfar juga memiliki keutamaan yang sangat besar. Ia bukan hanya menghapus dosa, tetapi juga mendatangkan rezeki, keturunan, hujan, kekuatan, dan kebahagiaan. Allah berfirman:

فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا . يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا . وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا

"Maka aku katakan (kepada mereka), 'Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.'" (QS. Nuh: 10-12)

Oleh karena itu, di sisa Ramadhan yang berharga ini, marilah kita perbanyak istighfar. Ucapkanlah dengan lisan, hayati dengan hati, dan ikuti dengan perbuatan. Istighfar yang sejati harus dibarengi dengan penyesalan (nadam), meninggalkan dosa tersebut (iqla’), dan bertekad kuat untuk tidak mengulanginya (‘azm). Jangan biarkan Ramadhan kita berlalu begitu saja, sementara kita belum benar-benar memohon ampunan-Nya dengan sepenuh hati.

Marilah kita tutup khutbah pertama ini dengan firman Allah:

وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ

"Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa." (QS. Ali ‘Imran: 133)

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

KHUTBAH II

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدَّعَوَاتِ. اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِينَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِينَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّينِ، وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُوَحِّدِينَ. اللَّهُمَّ أَصْلِحْ أَحْوَالَ الْمُسْلِمِينَ فِي كُلِّ مَكَانٍ، اللَّهُمَّ وَفِّقْ وُلَاةَ أُمُورِهِمْ لِمَا تُحِبُّ وَتَرْضَى، وَخُذْ بِنَوَاصِيهِمْ إِلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى. اللَّهُمَّ اجْعَلْ هَذَا الْبَلَدَ وَسَائِرَ بِلَادِ الْمُسْلِمِينَ آمِنَةً مُطْمَئِنَّةً، وَارْزُقْ أَهْلَهَا مِنْ ثِمَارِهِ وَأَزْوَاجِهِمْ وَذُرِّيَّاتِهِمْ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. عِبَادَ اللهِ: إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ ۚ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.

Decoration
Idul Fitri
05 Maret 2026 (18:25)

Menjaga Kesucian Hati di Hari Yang Fitri

KHUTBAH I

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ. أَمَّا بَعْدُ:

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan sebenar-benarnya. Takwa yang tidak hanya di lisan, tetapi meresap ke dalam hati, memancar dalam pikiran, dan terwujud dalam setiap amal perbuatan kita. Takwa adalah bekal terbaik untuk menghadapi segala ujian dan nikmat kehidupan.

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Hari ini kita telah melewati bulan Ramadhan yang penuh berkah. Kita telah berpuasa, menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa, dan berusaha mendekatkan diri kepada-Nya. Kini, kita merayakan kemenangan, hari yang fitri. Namun, apakah makna ‘fitri’ yang sesungguhnya? Secara bahasa, ‘fitri’ bermakna suci, kembali kepada kesucian. Bukan hanya suci secara fisik setelah mandi, tetapi yang lebih utama adalah sucinya hati. Kemenangan sejati adalah ketika kita berhasil membersihkan hati dari segala noda dosa dan penyakit-penyakitnya.

Hati (qalb) adalah raja bagi seluruh anggota badan. Jika hati baik, maka baik pula seluruh perbuatan. Sebaliknya, jika hati rusak, maka rusak pulalah seluruhnya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:

أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ 

Ketahuilah, bahwa di dalam jasad terdapat segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah, ia adalah hati. (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Maka, menjaga kesucian hati di hari yang fitri ini adalah tugas utama kita. Bagaimana caranya?

Pertama, dengan senantiasa bertaubat dan memohon ampunan. Taubat nasuha yang menghapus dosa-dosa dan mengembalikan hati pada kondisi fitrahnya yang suci. Allah Ta’ala berfirman:

وَتُوْبُوْا إِلَى اللَّهِ جَمِيْعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُوْنَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ 

Dan bertaubatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung. (QS. An-Nur: 31)

Kedua, dengan menjaga hati dari penyakit-penyakit yang merusak. Di antaranya adalah hasad (dengki), dendam, ujub (bangga diri), riya’, dan sombong. Penyakit-penyakit ini adalah karat yang mengotori cermin hati, sehingga cahaya iman dan hidayah sulit memantul darinya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam mengingatkan:

إِيَّاكُمْ وَالْحَسَدَ، فَإِنَّ الْحَسَدَ يَأْكُلُ الْحَسَنَاتِ كَمَا تَأْكُلُ النَّارُ الْحَطَبَ 

Jauhilah oleh kalian hasad (dengki), karena hasad itu memakan (menghancurkan) kebaikan-kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar. (HR. Abu Dawud)

Ketiga, dengan senantiasa mengingat Allah (dzikrullah). Hati yang selalu terpaut dengan dzikir kepada Allah akan menjadi tenang, lapang, dan bersih. Allah berfirman:

أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ 

Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram. (QS. Ar-Ra’d: 28)

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Hari raya Idul Fitri seharusnya menjadi momentum untuk memperbarui komitmen kita. Bukan sekadar tradisi bersilaturahmi dan memakai pakaian baru, tetapi yang terpenting adalah memperbarui hati kita. Membersihkannya dari permusuhan, memaafkan kesalahan orang lain, dan menebar kasih sayang. Inilah hakikat ‘kembali kepada fitrah’.

Marilah kita jadikan hati kita bersih, lapang, dan penuh cinta. Hati yang siap menerima kebaikan dan menyebarkannya kepada sesama. Hati yang tidak menyimpan kebencian, tetapi dipenuhi dengan keikhlasan dan ketulusan.

وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ 

Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa. (QS. Ali ‘Imran: 133)

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

KHUTBAH II

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. أُوصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. أَمَّا بَعْدُ:

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ. اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ، وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُوَحِّدِيْنَ. اللَّهُمَّ أَصْلِحْ أَحْوَالَنَا وَأَحْوَالَ الْمُسْلِمِيْنَ فِي كُلِّ مَكَانٍ، وَارْزُقْنَا الْأَمْنَ وَالْإِيْمَانَ، وَالسَّلَامَةَ وَالْإِسْلَامَ، وَرِضْوَانَكَ وَالْجَنَّةَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ، وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ، وَاللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.

Decoration
Ramadhan
02 Maret 2026 (18:56)

Keutamaan 10 hari pertengahan bulan ramadhan

KHUTBAH I

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، سَيِّدِنَا وَنَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى: يٰٓأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan sebenar-benarnya. Takwa adalah perisai yang melindungi kita dari murka-Nya dan bekal utama menuju kebahagiaan dunia dan akhirat.

Hadirin jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Kita saat ini tengah berada di dalam bulan yang penuh berkah, bulan Ramadhan. Bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an, bulan pengampunan, bulan pembebasan dari api neraka. Jika sepuluh hari pertama adalah rahmat, maka sepuluh hari pertengahan yang kita masuki ini adalah maghfirah, ampunan dari Allah.

Keutamaan hari-hari ini sangatlah agung. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:

أَوَّلُ شَهْرِ رَمَضَانَ رَحْمَةٌ، وَأَوْسَطُهُ مَغْفِرَةٌ، وَآخِرُهُ عِتْقٌ مِنَ النَّارِ 

“Awal bulan Ramadhan adalah rahmat, pertengahannya adalah maghfirah (ampunan), dan akhirnya adalah pembebasan dari api neraka.” (Hadits riwayat Ibnu Hibban, dishahihkan Al-Albani)

Inilah peluang emas yang Allah berikan. Pintu ampunan dibuka selebar-lebarnya. Allah ‘Azza wa Jalla memanggil hamba-hamba-Nya di malam hari, “Adakah orang yang meminta, pasti Aku beri. Adakah orang yang berdoa, pasti Aku kabulkan. Adakah orang yang memohon ampun, pasti Aku ampuni.”

Maka, di sepuluh hari ini, perbanyaklah istighfar. Ucapkanlah:

أَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ الَّذِي لَا إِلٰهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّوْمُ وَأَتُوْبُ إِلَيْهِ 

“Aku memohon ampun kepada Allah Yang Maha Agung, tiada Tuhan yang berhak disembah selain Dia, Yang Maha Hidup lagi Maha Berdiri Sendiri, dan aku bertaubat kepada-Nya.”

Perbanyaklah shalawat, sedekah, dan tilawah Al-Qur’an. Jangan sia-siakan momen ini dengan kelalaian. Barangsiapa yang tidak diampuni di bulan Ramadhan, maka kapan lagi ia akan diampuni?

Allah Ta’ala berfirman:

وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ 

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” (QS. Ali ‘Imran: 133)

Bersegeralah, wahai jiwa-jiwa yang mendambakan ampunan! Jangan tunda taubat. Perbaiki shalat malammu, kendalikan lisannu, sucikan hatimu dari dengki dan iri. Karena ampunan Allah hanya untuk orang-orang yang bersungguh-sungguh.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

KHUTBAH II

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ. اَللّٰهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ، وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُوَحِّدِيْنَ. اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ أَحْوَالَنَا وَأَحْوَالَ الْمُسْلِمِيْنَ فِيْ كُلِّ مَكَانٍ. اَللّٰهُمَّ احْفَظْ بِلَادَنَا وَبِلَادَ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ سُوْءٍ وَمَكْرُوْهٍ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ