KHUTBAH I
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ. أَمَّا بَعْدُ:
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan sebenar-benarnya. Takwa yang tidak hanya di lisan, tetapi meresap ke dalam hati, memancar dalam pikiran, dan terwujud dalam setiap amal perbuatan kita. Takwa adalah bekal terbaik untuk menghadapi segala ujian dan nikmat kehidupan.
Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,
Hari ini kita telah melewati bulan Ramadhan yang penuh berkah. Kita telah berpuasa, menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa, dan berusaha mendekatkan diri kepada-Nya. Kini, kita merayakan kemenangan, hari yang fitri. Namun, apakah makna ‘fitri’ yang sesungguhnya? Secara bahasa, ‘fitri’ bermakna suci, kembali kepada kesucian. Bukan hanya suci secara fisik setelah mandi, tetapi yang lebih utama adalah sucinya hati. Kemenangan sejati adalah ketika kita berhasil membersihkan hati dari segala noda dosa dan penyakit-penyakitnya.
Hati (qalb) adalah raja bagi seluruh anggota badan. Jika hati baik, maka baik pula seluruh perbuatan. Sebaliknya, jika hati rusak, maka rusak pulalah seluruhnya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:
أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ
Ketahuilah, bahwa di dalam jasad terdapat segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah, ia adalah hati. (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Maka, menjaga kesucian hati di hari yang fitri ini adalah tugas utama kita. Bagaimana caranya?
Pertama, dengan senantiasa bertaubat dan memohon ampunan. Taubat nasuha yang menghapus dosa-dosa dan mengembalikan hati pada kondisi fitrahnya yang suci. Allah Ta’ala berfirman:
وَتُوْبُوْا إِلَى اللَّهِ جَمِيْعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُوْنَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ
Dan bertaubatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung. (QS. An-Nur: 31)
Kedua, dengan menjaga hati dari penyakit-penyakit yang merusak. Di antaranya adalah hasad (dengki), dendam, ujub (bangga diri), riya’, dan sombong. Penyakit-penyakit ini adalah karat yang mengotori cermin hati, sehingga cahaya iman dan hidayah sulit memantul darinya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam mengingatkan:
إِيَّاكُمْ وَالْحَسَدَ، فَإِنَّ الْحَسَدَ يَأْكُلُ الْحَسَنَاتِ كَمَا تَأْكُلُ النَّارُ الْحَطَبَ
Jauhilah oleh kalian hasad (dengki), karena hasad itu memakan (menghancurkan) kebaikan-kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar. (HR. Abu Dawud)
Ketiga, dengan senantiasa mengingat Allah (dzikrullah). Hati yang selalu terpaut dengan dzikir kepada Allah akan menjadi tenang, lapang, dan bersih. Allah berfirman:
أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram. (QS. Ar-Ra’d: 28)
Jamaah yang dimuliakan Allah,
Hari raya Idul Fitri seharusnya menjadi momentum untuk memperbarui komitmen kita. Bukan sekadar tradisi bersilaturahmi dan memakai pakaian baru, tetapi yang terpenting adalah memperbarui hati kita. Membersihkannya dari permusuhan, memaafkan kesalahan orang lain, dan menebar kasih sayang. Inilah hakikat ‘kembali kepada fitrah’.
Marilah kita jadikan hati kita bersih, lapang, dan penuh cinta. Hati yang siap menerima kebaikan dan menyebarkannya kepada sesama. Hati yang tidak menyimpan kebencian, tetapi dipenuhi dengan keikhlasan dan ketulusan.
وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ
Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa. (QS. Ali ‘Imran: 133)
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
KHUTBAH II
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. أُوصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. أَمَّا بَعْدُ:
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ. اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ، وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُوَحِّدِيْنَ. اللَّهُمَّ أَصْلِحْ أَحْوَالَنَا وَأَحْوَالَ الْمُسْلِمِيْنَ فِي كُلِّ مَكَانٍ، وَارْزُقْنَا الْأَمْنَ وَالْإِيْمَانَ، وَالسَّلَامَةَ وَالْإِسْلَامَ، وَرِضْوَانَكَ وَالْجَنَّةَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ، وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ، وَاللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.