KULTUM RAMADHAN
Ramadhan dan Shalat Berjamaah: Menguatkan Iman, Menghidupkan Masjid
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي جَعَلَ شَهْرَ رَمَضَانَ مَوْسِمًا لِلْإِيْمَانِ وَالطَّاعَاتِ، وَشَرَعَ لَنَا فِيْهِ الصِّيَامَ وَالْقِيَامَ، وَرَغَّبَنَا فِي الصَّلَاةِ جَمَاعَةً لِنَتَآلَفَ وَنَتَرَاحَمَ وَنَتَقَوَّى عَلَى طَاعَتِهِ.
نَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَنَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَنَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، الَّذِي حَثَّ عَلَى الصَّلَاةِ فِي الْمَسْجِدِ، وَجَعَلَهَا سَبَبًا لِرَفْعِ الدَّرَجَاتِ وَتَكْفِيْرِ السَّيِّئَاتِ.
أَمَّا بَعْدُ
Jamaah yang dirahmati Allah,
Ramadhan adalah bulan kebangkitan iman. Di bulan ini, hati lebih mudah tersentuh, doa lebih sering terucap, dan masjid lebih ramai.
Namun pertanyaannya, apakah keramaian masjid itu hanya di awal Ramadhan? Ataukah terus terjaga hingga akhir?
Salah satu amalan besar yang sering kita remehkan adalah shalat berjamaah.
Padahal Rasulullah ﷺ bersabda:
صَلَاةُ الْجَمَاعَةِ أَفْضَلُ مِنْ صَلَاةِ الْفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِينَ دَرَجَةً
“Shalat berjamaah lebih utama daripada shalat sendirian dengan dua puluh tujuh derajat.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Dua puluh tujuh kali lipat. Bayangkan jika itu dikalikan dengan pahala Ramadhan yang dilipatgandakan. Betapa besar ganjarannya.
Ramadhan Momentum Menghidupkan Masjid.
Allah ﷻ berfirman:
إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ
“Hanyalah yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir serta mendirikan shalat.”
(QS. At-Taubah: 18)
Memakmurkan masjid bukan sekadar membangunnya. Tetapi menghidupkannya dengan shalat, dzikir, tilawah, dan doa.
Ramadhan adalah kesempatan emas untuk kembali akrab dengan masjid.
Jika di luar Ramadhan kita sibuk dengan dunia, maka di Ramadhan Allah panggil kita lima kali sehari ke rumah-Nya.
Keutamaan Langkah ke Masjid. Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ تَطَهَّرَ فِي بَيْتِهِ، ثُمَّ مَشَى إِلَى بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ، لِيَقْضِيَ فَرِيضَةً مِنْ فَرَائِضِ اللَّهِ، كَانَتْ خَطْوَتَاهُ إِحْدَاهُمَا تَحُطُّ خَطِيئَةً، وَالْأُخْرَى تَرْفَعُ دَرَجَةً
“Barang siapa bersuci di rumahnya, kemudian berjalan menuju salah satu rumah Allah untuk menunaikan kewajiban, maka satu langkahnya menghapus dosa dan langkah lainnya mengangkat derajat.”
(HR. Muslim)
Setiap langkah ke masjid adalah penghapus dosa.
Bayangkan dalam sehari lima kali kita melangkah. Berapa dosa yang Allah gugurkan? Berapa derajat yang Allah angkat?
Jamaah yang dirahmati Allah,
Shalat berjamaah bukan hanya soal pahala pribadi. Ia juga membangun kebersamaan.
Di dalam saf, tidak ada perbedaan kaya dan miskin. Tidak ada jabatan. Tidak ada status sosial.
Semua berdiri sejajar di hadapan Allah.
Ramadhan mengajarkan kita persaudaraan. Saat berbuka bersama, saat Tarawih bersama, saat sahur bersama, hati menjadi lebih lembut.
Masjid yang hidup adalah tanda hidupnya iman masyarakat.
Jamaah sekalian,
Coba kita renungkan…
Di hari kiamat nanti, ketika semua manusia gelisah, ketika matahari begitu dekat, ketika amal ditimbang…
Masjid yang dulu sering kita datangi akan menjadi saksi.
Apakah ia menjadi saksi yang membela kita? Ataukah ia menjadi saksi yang menuntut kita karena jarang kita kunjungi?
Rasulullah ﷺ bersabda tentang tujuh golongan yang mendapat naungan Allah di hari kiamat, salah satunya:
وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ بِالْمَسَاجِدِ
“Dan seseorang yang hatinya selalu terpaut dengan masjid.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Semoga kita termasuk golongan itu.
Mari jadikan Ramadhan sebagai titik balik.
Jika selama ini shalat masih sendiri, mari mulai berjamaah. Jika selama ini masjid terasa jauh, mari dekatkan diri. Jika selama ini malas, mari lawan diri kita.
Karena Ramadhan tidak lama. Dan kesempatan belum tentu datang dua kali.
Semoga setelah Ramadhan berlalu, masjid tetap ramai. Bukan hanya di bulan suci, tetapi sepanjang tahun.
اَللّٰهُمَّ اجْعَلْنَا مِنْ عُمَّارِ بُيُوْتِكَ، وَارْزُقْنَا حُبَّ الْمَسَاجِدِ، وَثَبِّتْنَا عَلَى الصَّلَاةِ جَمَاعَةً، وَتَقَبَّلْ مِنَّا يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ.
آمِيْن.