KHUTBAH I
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا وَحَبِيْبِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. أَمَّا بَعْدُ: فَيَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan sebenar-benarnya. Takwa yang tidak hanya di lisan, tetapi membumi dalam amal perbuatan, terlebih di bulan suci Ramadhan yang penuh berkah ini. Salah satu amalan yang mengiringi puasa kita adalah zakat fitrah. Pada kesempatan ini, mari kita renungkan bersama hakikat dari zakat fitrah yang kita tunaikan.
Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,
Zakat fitrah bukan sekadar ritual tahunan atau tradisi turun-temurun. Ia adalah ibadah yang memiliki makna sangat dalam. Secara bahasa, ‘fitrah’ berarti suci, asal kejadian, atau naluri. Zakat ini disebut ‘fitrah’ karena ia menyucikan jiwa orang yang berpuasa dari kelalaian dan kata-kata sia-sia yang mungkin terjadi selama Ramadhan. Ia juga menjadi penyempurna puasa kita.
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ، مَنْ أَدَّاهَا قَبْلَ الصَّلَاةِ فَهِيَ زَكَاةٌ مَقْبُولَةٌ، وَمَنْ أَدَّاهَا بَعْدَ الصَّلَاةِ فَهِيَ صَدَقَةٌ مِنَ الصَّدَقَاتِ.
Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mewajibkan zakat fitrah sebagai penyuci bagi orang yang berpuasa dari perbuatan sia-sia dan kata-kata kotor, dan sebagai makanan bagi orang miskin. Barangsiapa menunaikannya sebelum shalat (Id), maka itu adalah zakat yang diterima. Dan barangsiapa menunaikannya setelah shalat, maka itu hanyalah sedekah biasa.” (HR. Abu Daud, Ibnu Majah, dishahihkan Al-Albani)
Lihatlah, jamaahku, betapa agung tujuan zakat fitrah ini. Pertama, ia adalah ‘thuhrah’, pembersih dan penyuci. Puasa kita yang sebulan penuh, meski telah maksimal, sangat mungkin tercampur dengan kelalaian, ghibah, atau pandangan yang haram. Zakat fitrah inilah yang membersihkan noda-noda kecil tersebut, sehingga puasa kita benar-benar sempurna dan suci.
Kedua, ia adalah ‘thu’mah’, makanan bagi kaum miskin. Inilah dimensi sosial yang sangat nyata. Zakat fitrah memastikan bahwa pada hari raya yang penuh suka cita itu, tidak ada seorang muslim pun yang kelaparan atau merasa kekurangan. Semua bisa merayakan kemenangan dengan perut yang terisi. Ini adalah bentuk solidaritas dan kepedulian yang diajarkan Islam.
Ketiga, zakat fitrah adalah tanda syukur. Ia adalah bentuk syukur kita kepada Allah yang telah memberikan nikmat kesehatan dan kesempatan untuk menyelesaikan ibadah puasa Ramadhan. Dengan mengeluarkan sebagian harta, kita mengakui bahwa semua rezeki adalah milik Allah.
هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُمْ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا
Dialah (Allah) yang menciptakan segala apa yang ada di bumi untuk kalian. (QS. Al-Baqarah: 29)
Maka, hakikat zakat fitrah adalah ibadah penyucian jiwa, kepedulian sosial, dan wujud syukur, yang semuanya bermuara pada peningkatan ketakwaan kita. Ia adalah bukti nyata bahwa Islam tidak hanya mengurusi hubungan vertikal dengan Allah (hablum minallah), tetapi juga hubungan horizontal dengan sesama manusia (hablum minannas).
Oleh karena itu, tunaikanlah zakat fitrah dengan penuh kesadaran akan maknanya. Keluarkanlah dengan harta yang baik, sesuai takaran yang ditetapkan, dan berikanlah kepada yang berhak, lebih utama sebelum shalat Id dilaksanakan. Jangan sampai kita meremehkannya atau menundanya tanpa alasan yang syar’i.
وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَارْكَعُوا مَعَ الرَّاكِعِينَ
Dan laksanakanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan rukuklah bersama orang yang rukuk. (QS. Al-Baqarah: 43)
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
KHUTBAH II
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. أَمَّا بَعْدُ: فَاتَّقُوا اللهَ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدَّعَوَاتِ. اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِينَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِينَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّينِ، وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُوَحِّدِينَ. اللَّهُمَّ أَصْلِحْ أَحْوَالَ الْمُسْلِمِينَ فِي كُلِّ مَكَانٍ، اللَّهُمَّ وَفِّقْ وُلَاةَ أُمُورِهِمْ لِمَا تُحِبُّ وَتَرْضَى، وَخُذْ بِنَوَاصِيهِمْ إِلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَاسْأَلُوهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ، وَاللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.