Kumpulan Teks Khutbah Jumat

Cari dan temukan materi khutbah Jum'at terbaik, disusun berdasarkan tema dan momen penting.

Decoration
Ramadhan
28 Februari 2026 (14:06)

Hal yang mengurangi pahala puasa ramadhan

KHUTBAH I

الْحَمْدُ لِلَّهِ الْعَلِيِّ الْأَعْلَى، خَلَقَ فَسَوَّى، وَقَدَّرَ فَهَدَى، وَأَخْرَجَ الْمَرْعَى، فَجَعَلَهُ غُثَاءً أَحْوَى. نَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ عَلَى نِعَمٍ لَا تُحْصَى، وَنَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَنَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيمًا كَثِيرًا. أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، وَطَاعَتِهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ. قَالَ اللَّهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيمِ: > يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Takwa adalah bekal terbaik menuju kebahagiaan dunia dan akhirat.

Hadirin jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Bulan Ramadhan adalah bulan yang penuh berkah, bulan di mana pahala dilipatgandakan, pintu surga dibuka lebar, dan pintu neraka ditutup rapat. Kita bersyukur telah dipertemukan kembali dengan bulan yang mulia ini. Namun, perlu kita sadari bersama bahwa ibadah puasa kita tidak hanya diukur dari sekedar menahan lapar dan dahaga dari terbit fajar hingga terbenam matahari. Ada hakikat dan ruh puasa yang harus kita jaga, yaitu ketakwaan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

“Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan mengamalkannya, maka Allah tidak butuh terhadap ia meninggalkan makan dan minumnya.” (HR. Bukhari)

Hadits yang mulia ini memberikan peringatan yang sangat keras. Puasa kita bisa menjadi sia-sia, tidak bernilai di sisi Allah, jika kita masih membiarkan lisan kita berkata dusta, menggunjing, mengadu domba, atau berkata kotor. Inilah hal pertama yang dapat mengurangi, bahkan menghilangkan pahala puasa: tidak menjaga lisan.

Lisan adalah anggota badan yang kecil, namun dampaknya sangat besar. Di bulan Ramadhan, kita dilatih untuk mengendalikan hawa nafsu, dan lisan adalah salah satu nafsu yang paling sulit dikendalikan. Berapa banyak pertengkaran, perselisihan, dan sakit hati yang bermula dari lisan yang tidak terjaga? Puasa seharusnya menjadikan kita lebih sabar, lebih lembut, dan lebih berhati-hati dalam berkata-kata.

Hal kedua yang dapat mengurangi pahala puasa adalah melakukan perbuatan maksiat dengan anggota badan lainnya. Mata yang masih liar melihat hal-hal yang diharamkan, telinga yang masih mendengarkan ghibah dan lagu-lagu yang melalaikan, tangan yang masih mengambil hak orang lain atau berbuat zalim, kaki yang masih melangkah ke tempat-tempat maksiat. Semua ini bertentangan dengan spirit puasa. Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ وَمَنْ يَتَّبِعْ خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ فَإِنَّهُ يَأْمُرُ بِالْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Barangsiapa mengikuti langkah-langkah setan, maka sesungguhnya setan itu menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan mungkar.” (QS. An-Nur: 21)

Puasa adalah perisai. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

الصِّيَامُ جُنَّةٌ، فَإِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلَا يَرْفُثْ وَلَا يَصْخَبْ، فَإِنْ سَابَّهُ أَحَدٌ أَوْ قَاتَلَهُ فَلْيَقُلْ: إِنِّي صَائِمٌ

“Puasa adalah perisai. Maka apabila salah seorang dari kalian sedang berpuasa, janganlah ia berkata kotor dan berteriak-teriak. Jika ada orang yang mencacinya atau memeranginya, maka hendaklah ia mengatakan, ‘Sesungguhnya aku sedang berpuasa.’” (HR. Bukhari dan Muslim)

Perhatikanlah, hadits ini mengajarkan kita untuk menggunakan puasa sebagai tameng, bukan sebagai alasan untuk marah, tetapi justru sebagai pengingat untuk menahan diri. Jika ada yang mencaci, ingatlah bahwa kita sedang berpuasa, maka kita harus menahan emosi dan membalas dengan kebaikan atau diam. Inilah puasa yang sesungguhnya.

Hal ketiga yang dapat mengurangi pahala puasa adalah niat yang tidak ikhlas. Puasa yang dilakukan karena ingin dipuji orang (riya’), atau sekadar mengikuti tradisi, tanpa mengharap wajah Allah, maka ia akan kehilangan ruhnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda dalam hadits qudsi:

قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلَّا الصِّيَامَ، فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ

“Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: ‘Setiap amalan anak Adam adalah untuknya, kecuali puasa. Sesungguhnya puasa itu untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya.’” (HR. Bukhari)

Keikhlasan adalah ruh dari setiap ibadah. Jagalah niat kita, perbaharui di setiap saat, bahwa puasa ini semata-mata karena Allah, untuk meraih takwa dan ampunan-Nya.

Hadirin yang dimuliakan Allah,

Marilah kita evaluasi puasa kita. Apakah kita hanya mendapatkan lapar dan dahaga, atau kita benar-benar meraih ketakwaan? Jangan sampai kita termasuk orang yang disebut Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الْجُوعُ وَالْعَطَشُ

“Betapa banyak orang yang berpuasa, bagiannya dari puasanya hanyalah lapar dan dahaga.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah, hasan)

Maka, mari kita jaga puasa kita dari hal-hal yang merusak dan mengurangi pahalanya. Kita jaga lisan, kita kendalikan pandangan dan pendengaran, kita tahan tangan dari berbuat zalim, dan kita ikhlaskan niat hanya untuk Allah Ta’ala.

بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ. أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.

KHUTBAH II

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيمًا كَثِيرًا. أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدَّعَوَاتِ. اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِينَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِينَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّينِ، وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُوَحِّدِينَ. اللَّهُمَّ أَصْلِحْ أَحْوَالَ الْمُسْلِمِينَ فِي كُلِّ مَكَانٍ، اللَّهُمَّ وَفِّقْ وُلَاةَ أُمُورِهِمْ لِمَا تُحِبُّ وَتَرْضَى، وَخُذْ بِنَوَاصِيهِمْ إِلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى. اللَّهُمَّ اجْعَلْ هَذَا الْبَلَدَ وَسَائِرَ بِلَادِ الْمُسْلِمِينَ آمِنَةً مُطْمَئِنَّةً، وَارْزُقْ أَهْلَهَا مِنْ فَضْلِكَ رِزْقًا حَلَالًا طَيِّبًا وَاسِعًا. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. عِبَادَ اللَّهِ: > إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

وَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ، وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.

Decoration
Ramadhan
23 Februari 2026 (19:50)

Keutamaan 10 Hari di Awal Bulan Ramadhan

KHUTBAH I

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا وَحَبِيْبِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan sebenar-benarnya. Takwa adalah bekal terbaik, perisai yang melindungi, dan jalan menuju kemuliaan di dunia dan akhirat.

Hadirin jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Kita telah memasuki bulan yang penuh berkah, bulan Ramadhan. Sebuah madrasah ruhani yang Allah sediakan untuk kita. Bagi para akademisi, bulan ini adalah laboratorium agung untuk menguji dan meningkatkan kualitas keimanan, sekaligus momentum untuk merenungkan tanda-tanda kebesaran Allah dalam setiap ilmu yang kita pelajari. Pada khutbah kali ini, kita akan menyelami satu keistimewaan khusus dalam bulan ini, yaitu keutamaan sepuluh hari pertama Ramadhan.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam telah memberikan gambaran yang indah tentang fase-fase dalam Ramadhan. Beliau bersabda:

أَوَّلُهُ رَحْمَةٌ، وَأَوْسَطُهُ مَغْفِرَةٌ، وَآخِرُهُ عِتْقٌ مِنَ النَّارِ 

“Awal bulan Ramadhan adalah rahmat, pertengahannya adalah ampunan, dan akhirnya adalah pembebasan dari api neraka.” (Hadits riwayat Ibnu Khuzaimah, dishahihkan Al-Albani).

Sepuluh hari pertama adalah fase “Rahmah” (رَحْمَةٌ). Rahmat Allah yang melimpah turun, pintu-pintu langit dibuka lebar, pintu-pintu surga dibuka, dan pintu-pintu neraka ditutup. Ini adalah kesempatan emas untuk mengejar pahala dan mendekat kepada Dzat Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Bagi seorang akademisi, konsep “rahmat” ini bisa kita renungkan lebih dalam. Rahmat Allah dalam ilmu adalah pemahaman yang benar (al-fahm), kemudahan dalam menelaah (al-yusr), dan ketepatan dalam mengambil kesimpulan (as-sawab). Di sepuluh hari pertama ini, kita memohon agar Allah membukakan rahmat-Nya dalam setiap ilmu yang kita tekuni, sehingga ilmu itu membawa kita semakin dekat kepada-Nya, bukan menjauhkan.

Keutamaan lain dari hari-hari awal Ramadhan adalah semangat yang masih menggebu. Ini adalah modal berharga. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dan para sahabat sangat bersemangat dalam beribadah di bulan ini. Mari kita jadikan momentum awal ini untuk membangun kebiasaan (habit) ibadah yang kuat: tilawah yang konsisten, shalat malam yang khusyuk, sedekah yang tulus, dan menahan diri dari segala hal yang sia-sia.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ 

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” (QS. Ali ‘Imran: 133).

Ayat ini memerintahkan untuk “bersegera”. Sepuluh hari pertama adalah waktu yang tepat untuk menerapkan “as-suru’” (bersegera) dalam kebaikan. Jangan menunda-nunda tilawah, jangan menunda qiyamul lail, jangan menunda sedekah. Seorang penuntut ilmu paham betul bahwa keberhasilan seringkali ditentukan oleh konsistensi di awal.

Oleh karena itu, jamaah yang budiman, mari kita manfaatkan betul sepuluh hari pertama ini. Isi dengan:

  1. Target Tilawah yang jelas dan terukur.
  2. Memperbanyak Doa, karena doa orang yang berpuasa mustajab.
  3. Memperbanyak Sedekah, karena Rasulullah adalah orang yang paling dermawan, dan lebih lagi di bulan Ramadhan.
  4. Menjaga Lisan dan Pandangan dari hal-hal yang mengurangi pahala puasa.

Marilah kita tutup khutbah pertama ini dengan firman Allah:

وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

Dan barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh ia telah mendapat kemenangan yang besar.” (QS. Al-Ahzab: 71).

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

KHUTBAH II

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدُّعَاءِ. اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِينَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِينَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّينِ، وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُوَحِّدِينَ. اللَّهُمَّ أَصْلِحْ أَحْوَالَ الْمُسْلِمِينَ فِي كُلِّ مَكَانٍ، اللَّهُمَّ وَفِّقْ وُلَاةَ أُمُورِهِمْ لِمَا تُحِبُّ وَتَرْضَى، وَخُذْ بِنَوَاصِيهِمْ لِلْبِرِّ وَالتَّقْوَى. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. وَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ.

Decoration
Sya'ban
18 Februari 2026 (12:48)

Menyambut Ramadhan Dengan Gembira

NASKAH KHUTBAH JUMAT: MENYAMBUT RAMADHAN DENGAN GEMBIRA

KHUTBAH I

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ، وَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan sebenar-benarnya. Takwa yang menghiasi hati, terpancar dalam ucapan, dan terbukti dalam amal perbuatan. Takwa adalah bekal terbaik menuju kehidupan yang kekal di akhirat kelak.

Hadirin jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Tidak terasa, kita telah berada di penghujung bulan Sya’ban. Sebentar lagi, kita akan memasuki bulan yang penuh berkah, bulan yang dinanti-nanti oleh setiap jiwa yang beriman. Bulan Ramadhan. Bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an, bulan yang memiliki malam yang lebih baik dari seribu bulan, bulan di mana pintu-pintu surga dibuka lebar-lebar, pintu-pintu neraka ditutup rapat, dan setan-setan dibelenggu.

Menyambut tamu agung ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengajarkan kepada kita untuk menyambutnya dengan perasaan gembira dan sukacita. Bukan dengan keluh kesah, bukan dengan rasa berat, apalagi dengan menganggapnya sebagai beban.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «يَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلَّا الصِّيَامَ، فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ... وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَخُلُوفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ، لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ يَفْرَحُهُمَا: إِذَا أَفْطَرَ فَرِحَ بِفِطْرِهِ، وَإِذَا لَقِيَ رَبَّهُ فَرِحَ بِصَوْمِهِ» 

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: ‘Setiap amalan anak Adam adalah untuknya kecuali puasa. Sesungguhnya puasa itu untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya... Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada aroma minyak kasturi. Bagi orang yang berpuasa ada dua kegembiraan: ketika ia berbuka ia bergembira dengan bukanya, dan ketika ia bertemu Rabbnya ia bergembira dengan puasanya.’” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Perhatikanlah, hadirin yang mulia. Rasulullah menyebutkan bahwa orang yang berpuasa memiliki dua kegembiraan. Ini adalah isyarat bahwa ibadah Ramadhan harus disambut dan dijalani dengan hati yang gembira, penuh harap akan pahala dan ampunan Allah.

Lalu, bagaimana bentuk kegembiraan menyambut Ramadhan itu?

Pertama, kegembiraan dengan mempersiapkan ilmu. Kita bergembira karena akan memasuki madrasah ilahiyah, sekolah dari Allah. Untuk itu, kita harus mempersiapkan ilmu tentang puasa, tentang shalat Tarawih, tentang zakat fitrah, tentang tadarus Al-Qur’an, dan tentang seluruh amalan sunnah di dalamnya. Tanpa ilmu, ibadah kita bisa sia-sia.

Kedua, kegembiraan dengan mempersiapkan fisik dan mental. Kita bergembira dengan mulai membiasakan bangun malam untuk Qiyamul Lail, mengatur pola makan yang sehat, dan mengurangi hal-hal yang sia-sia. Kita sambut Ramadhan dengan tubuh yang sehat dan jiwa yang bersemangat, bukan dengan tubuh yang lemah karena begadang untuk hal yang tidak bermanfaat.

Ketiga, kegembiraan dengan mempersiapkan hati. Kita bersihkan hati dari dendam, hasad, iri, dan penyakit-penyakit hati lainnya. Kita isi dengan cinta, kasih sayang, dan keinginan kuat untuk bertaubat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ وَالْجَهْلَ، فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ 

“Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan mengamalkannya, serta perbuatan bodoh (sia-sia), maka Allah tidak butuh terhadap ia meninggalkan makan dan minumnya (puasanya).” (HR. Al-Bukhari)

Keempat, kegembiraan dengan mempersiapkan amal sosial. Ramadhan adalah bulan solidaritas. Kita bergembira dengan menyiapkan sebagian harta untuk sedekah, untuk membantu fakir miskin agar mereka juga bisa berpuasa dengan tenang, dan untuk berbagi hidangan berbuka. Inilah bulan di mana pahala sedekah dilipatgandakan.

Hadirin jamaah Jumat,

Mari kita sambut Ramadhan dengan gembira, karena ia adalah bulan pengampunan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ 

“Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharap pahala, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Kita bergembira karena dosa-dosa kita akan diampuni. Kita bergembira karena kita diberi kesempatan untuk meraih gelar ‘muttaqin’ (orang-orang yang bertakwa) setelah sebulan penuh berlatih. Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ 

“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)

Marilah kita tutup khutbah pertama ini dengan firman Allah:

وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ “Dan 

bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” (QS. Ali ‘Imran: 133)

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

KHUTBAH II

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدَّعَوَاتِ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِينَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِينَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّينِ، وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُوَحِّدِينَ. اللَّهُمَّ أَصْلِحْ أَحْوَالَ الْمُسْلِمِينَ فِي كُلِّ مَكَانٍ، اللَّهُمَّ وَفِّقْهُمْ لِمَا تُحِبُّ وَتَرْضَى، وَاجْمَعْ كَلِمَتَهُمْ عَلَى الْحَقِّ، وَوَحِّدْ صُفُوفَهُمْ عَلَى الْهُدَى. اللَّهُمَّ بَلِّغْنَا رَمَضَانَ، وَأَعِنَّا عَلَى صِيَامِهِ وَقِيَامِهِ، وَتَقَبَّلْهُ مِنَّا، إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ.

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَاسْأَلُوهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ، وَ

Decoration
Ramadhan
15 Februari 2026 (13:22)

Ramadhan Semakin Dekat, Amal Ibadah Semakin Meningkat

KHUTBAH JUM’AT

Ramadhan Semakin Dekat, Amal Ibadah Semakin Meningkat

KHUTBAH PERTAMA

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ نَحْمَدُهُ حَمْدًا كَثِيْرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيْهِ، نَحْمَدُهُ عَلَى نِعْمَةِ الْإِيْمَانِ وَالْإِسْلَامِ، وَنَشْكُرُهُ عَلَى فَضْلِهِ وَإِحْسَانِهِ.
وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللّٰهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.
اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللّٰهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah
Saya berwasiat kepada diri saya sendiri dan kepada jamaah sekalian, marilah kita tingkatkan ketakwaan kepada Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā dengan sebenar-benar takwa, menjalankan seluruh perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.

Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah, 
Waktu terus berjalan, hari demi hari berlalu, dan tanpa terasa bulan suci Ramadhan semakin dekat. Bulan yang penuh keberkahan, bulan ampunan, bulan rahmat, dan bulan pembebasan dari api neraka.

Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ
(سورة البقرة: ١٨٣)

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa.”

Ayat ini menegaskan bahwa tujuan utama Ramadhan adalah melahirkan ketakwaan, bukan sekadar menahan lapar dan dahaga. Maka, ketika Ramadhan semakin dekat, seharusnya amal ibadah kita juga semakin meningkat, bukan justru tetap atau bahkan menurun.

Para ulama terdahulu mempersiapkan diri menghadapi Ramadhan jauh-jauh hari. Mereka membersihkan hati dengan taubat, melatih diri dengan ibadah sunnah, dan memperbanyak amal shalih.

Rasulullah ﷺ bersabda:
أَتَاكُمْ رَمَضَانُ شَهْرٌ مُبَارَكٌ، فَرَضَ اللّٰهُ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ، تُفْتَحُ فِيْهِ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ، وَتُغْلَقُ فِيْهِ أَبْوَابُ الْجَحِيْمِ
(رواه النسائي)

“Telah datang kepada kalian bulan Ramadhan, bulan yang penuh berkah. Allah mewajibkan atas kalian berpuasa di dalamnya, pintu-pintu surga dibuka dan pintu-pintu neraka ditutup.”

Jika pintu surga sudah dibuka, maka sangat merugi orang yang tidak berusaha masuk ke dalamnya dengan amal ibadah.

Jamaah rahimakumullah,
Menyambut Ramadhan bukan hanya dengan spanduk dan ucapan, tetapi dengan peningkatan amal ibadah, di antaranya:

Memperbaiki dan menjaga shalat, terutama shalat berjamaah di masjid.
Memperbanyak membaca Al-Qur’an, karena Ramadhan adalah bulan Al-Qur’an.
Memperbanyak dzikir dan istighfar, membersihkan hati dari dosa dan kelalaian.
Melatih puasa sunnah, agar tubuh dan jiwa siap menyambut puasa Ramadhan.
Menjaga lisan dan akhlak, karena puasa sejati bukan hanya menahan makan dan minum, tetapi juga menahan diri dari dosa.

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّوْرِ وَالْعَمَلَ بِهِ، فَلَيْسَ لِلّٰهِ حَاجَةٌ فِيْ أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ
(رواه البخاري)

“Barang siapa tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan buruk, maka Allah tidak butuh ia meninggalkan makan dan minumnya.”

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah
Mari kita jadikan sisa waktu sebelum Ramadhan sebagai waktu pemanasan iman, agar ketika Ramadhan tiba kita sudah siap lahir dan batin, dan keluar dari Ramadhan dalam keadaan dosa-dosa diampuni.

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

KHUTBAH KEDUA

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ حَمْدًا كَثِيْرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيْهِ، كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى.
اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.
اتَّقُوا اللّٰهَ، وَاسْتَعِدُّوْا لِرَمَضَانَ بِالْإِيْمَانِ وَالْعَمَلِ الصَّالِحِ

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah
Sekali lagi marilah kita bertakwa kepada Allah dan bersungguh-sungguh mempersiapkan diri menyambut Ramadhan dengan amal terbaik..

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.
اَللّٰهُمَّ بَلِّغْنَا شَهْرَ رَمَضَانَ، وَأَعِنَّا فِيْهِ عَلَى الصِّيَامِ وَالْقِيَامِ وَتِلَاوَةِ الْقُرْآنِ.
اَللّٰهُمَّ اجْعَلْنَا فِيْ رَمَضَانَ مِنَ الْمَغْفُوْرِ لَهُمْ، وَمِنَ الْمَرْحُوْمِيْنَ، وَمِنَ الْمُعْتَقِيْنَ مِنَ النَّارِ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللّٰهِ، إِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ، وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ.

Decoration
Kultum Ramadhan
15 Februari 2026 (13:18)

Ramadhan dan Shalat Berjamaah: Menguatkan Iman dan Menghidupkan Masjid

KULTUM RAMADHAN

Ramadhan dan Shalat Berjamaah: Menguatkan Iman, Menghidupkan Masjid

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي جَعَلَ شَهْرَ رَمَضَانَ مَوْسِمًا لِلْإِيْمَانِ وَالطَّاعَاتِ، وَشَرَعَ لَنَا فِيْهِ الصِّيَامَ وَالْقِيَامَ، وَرَغَّبَنَا فِي الصَّلَاةِ جَمَاعَةً لِنَتَآلَفَ وَنَتَرَاحَمَ وَنَتَقَوَّى عَلَى طَاعَتِهِ.
نَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَنَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَنَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، الَّذِي حَثَّ عَلَى الصَّلَاةِ فِي الْمَسْجِدِ، وَجَعَلَهَا سَبَبًا لِرَفْعِ الدَّرَجَاتِ وَتَكْفِيْرِ السَّيِّئَاتِ.
أَمَّا بَعْدُ

Jamaah yang dirahmati Allah,
Ramadhan adalah bulan kebangkitan iman. Di bulan ini, hati lebih mudah tersentuh, doa lebih sering terucap, dan masjid lebih ramai.

Namun pertanyaannya, apakah keramaian masjid itu hanya di awal Ramadhan? Ataukah terus terjaga hingga akhir?
Salah satu amalan besar yang sering kita remehkan adalah shalat berjamaah.

Padahal Rasulullah ﷺ bersabda:

صَلَاةُ الْجَمَاعَةِ أَفْضَلُ مِنْ صَلَاةِ الْفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِينَ دَرَجَةً

“Shalat berjamaah lebih utama daripada shalat sendirian dengan dua puluh tujuh derajat.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Dua puluh tujuh kali lipat. Bayangkan jika itu dikalikan dengan pahala Ramadhan yang dilipatgandakan. Betapa besar ganjarannya.

Ramadhan Momentum Menghidupkan Masjid.
Allah ﷻ berfirman:

إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ

“Hanyalah yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir serta mendirikan shalat.”
(QS. At-Taubah: 18)

Memakmurkan masjid bukan sekadar membangunnya. Tetapi menghidupkannya dengan shalat, dzikir, tilawah, dan doa.
Ramadhan adalah kesempatan emas untuk kembali akrab dengan masjid.
Jika di luar Ramadhan kita sibuk dengan dunia, maka di Ramadhan Allah panggil kita lima kali sehari ke rumah-Nya.

Keutamaan Langkah ke Masjid. Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ تَطَهَّرَ فِي بَيْتِهِ، ثُمَّ مَشَى إِلَى بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ، لِيَقْضِيَ فَرِيضَةً مِنْ فَرَائِضِ اللَّهِ، كَانَتْ خَطْوَتَاهُ إِحْدَاهُمَا تَحُطُّ خَطِيئَةً، وَالْأُخْرَى تَرْفَعُ دَرَجَةً

“Barang siapa bersuci di rumahnya, kemudian berjalan menuju salah satu rumah Allah untuk menunaikan kewajiban, maka satu langkahnya menghapus dosa dan langkah lainnya mengangkat derajat.”
(HR. Muslim)

Setiap langkah ke masjid adalah penghapus dosa.
Bayangkan dalam sehari lima kali kita melangkah. Berapa dosa yang Allah gugurkan? Berapa derajat yang Allah angkat?

Jamaah yang dirahmati Allah,
Shalat berjamaah bukan hanya soal pahala pribadi. Ia juga membangun kebersamaan.
Di dalam saf, tidak ada perbedaan kaya dan miskin. Tidak ada jabatan. Tidak ada status sosial.
Semua berdiri sejajar di hadapan Allah.

Ramadhan mengajarkan kita persaudaraan. Saat berbuka bersama, saat Tarawih bersama, saat sahur bersama, hati menjadi lebih lembut.
Masjid yang hidup adalah tanda hidupnya iman masyarakat.

Jamaah sekalian,
Coba kita renungkan…
Di hari kiamat nanti, ketika semua manusia gelisah, ketika matahari begitu dekat, ketika amal ditimbang…
Masjid yang dulu sering kita datangi akan menjadi saksi.
Apakah ia menjadi saksi yang membela kita? Ataukah ia menjadi saksi yang menuntut kita karena jarang kita kunjungi?

Rasulullah ﷺ bersabda tentang tujuh golongan yang mendapat naungan Allah di hari kiamat, salah satunya:

وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ بِالْمَسَاجِدِ

“Dan seseorang yang hatinya selalu terpaut dengan masjid.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Semoga kita termasuk golongan itu.

Mari jadikan Ramadhan sebagai titik balik.
Jika selama ini shalat masih sendiri, mari mulai berjamaah. Jika selama ini masjid terasa jauh, mari dekatkan diri. Jika selama ini malas, mari lawan diri kita.

Karena Ramadhan tidak lama. Dan kesempatan belum tentu datang dua kali.
Semoga setelah Ramadhan berlalu, masjid tetap ramai. Bukan hanya di bulan suci, tetapi sepanjang tahun.

اَللّٰهُمَّ اجْعَلْنَا مِنْ عُمَّارِ بُيُوْتِكَ، وَارْزُقْنَا حُبَّ الْمَسَاجِدِ، وَثَبِّتْنَا عَلَى الصَّلَاةِ جَمَاعَةً، وَتَقَبَّلْ مِنَّا يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ.
آمِيْن.

Decoration
Kultum Ramadhan
15 Februari 2026 (13:12)

Ramadhan dan Doa-doa yang Mustajab

KULTUM RAMADHAN
Ramadhan dan Doa-doa yang Mustajab

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي فَتَحَ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ أَبْوَابَ الرَّحْمَةِ، وَوَعَدَ فِيهِ بِإِجَابَةِ الدُّعَاءِ، وَجَعَلَهُ مَوْسِمًا لِرَفْعِ الْأَيْدِي وَخُضُوْعِ الْقُلُوْبِ بَيْنَ يَدَيْهِ. نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ.
شَهْرُ رَمَضَانَ شَهْرُ الدُّعَاءِ، فِيهِ تَقْتَرِبُ الْقُلُوْبُ مِنَ السَّمَاءِ، وَتُسْمَعُ أَنَّاتُ الْعِبَادِ، وَيَرْجُوْ الْمُؤْمِنُ فِيهِ إِجَابَةَ رَبِّ الْعِبَادِ.
…أَمَّا بَعْدُ

Jamaah yang dirahmati Allah,
Ramadhan bukan hanya bulan puasa, bukan sekadar menahan lapar dan dahaga. Ramadhan adalah bulan doa, bulan ketika seorang hamba paling dekat dengan Rabb-nya.

Allah ﷻ secara khusus menyebut doa di tengah-tengah ayat puasa:

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيْبٌ ۖ أُجِيْبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka sungguh Aku dekat. Aku mengabulkan doa orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku.”
(QS. Al-Baqarah: 186)

Ayat ini seolah ingin menenangkan hati kita:
Allah dekat, bukan jauh.
Allah mendengar, bukan lalai.
Allah menjawab, bukan mengabaikan.

Rasulullah ﷺ bersabda:

ثَلَاثَةٌ لَا تُرَدُّ دَعْوَتُهُمْ: الصَّائِمُ حَتَّى يُفْطِرَ، وَالْإِمَامُ الْعَادِلُ، وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ

“Ada tiga doa yang tidak tertolak: doa orang yang berpuasa hingga ia berbuka, doa pemimpin yang adil, dan doa orang yang terzalimi.”
(HR. Tirmidzi)

Perhatikan jamaah sekalian, doa orang berpuasa disebut pertama. Ini menunjukkan betapa mulianya doa di bulan Ramadhan.
Namun sering kali kita berpuasa, tapi lupa berdoa.
Kita sibuk menunggu adzan maghrib, sibuk dengan hidangan, tetapi lupa mengangkat tangan dan bermunajat.

Padahal Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ لِلصَّائِمِ عِنْدَ فِطْرِهِ دَعْوَةً لَا تُرَدُّ

“Sesungguhnya bagi orang yang berpuasa, ketika berbuka terdapat doa yang tidak akan ditolak.”
(HR. Ibnu Mājah)

Ramadhan juga mengajarkan kita doa dengan hati yang bersih. Puasa melemahkan hawa nafsu, melembutkan hati, dan menjadikan doa lebih ikhlas.
Allah ﷻ berfirman:

ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً

“Berdoalah kepada Rabb kalian dengan penuh kerendahan hati dan suara yang lembut.”
(QS. Al-A‘rāf: 55)

Bukan kerasnya suara yang membuat doa dikabulkan, tetapi tunduknya hati.
Bukan panjangnya lafaz, tetapi kejujuran air mata.

Jamaah yang dimuliakan Allah,
Jika doa kita belum terkabul, jangan buru-buru berprasangka buruk kepada Allah. Bisa jadi Allah:
Menunda karena kita belum siap
Mengganti dengan yang lebih baik
Menyimpannya sebagai pahala di akhirat

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَدْعُو اللَّهَ بِدَعْوَةٍ لَيْسَ فِيهَا إِثْمٌ وَلَا قَطِيعَةُ رَحِمٍ إِلَّا أَعْطَاهُ اللَّهُ بِهَا إِحْدَى ثَلَاثٍ

“Tidaklah seorang muslim berdoa kepada Allah dengan doa yang tidak mengandung dosa dan memutus silaturahmi, kecuali Allah akan memberinya salah satu dari tiga: dikabulkan segera, disimpan untuk akhirat, atau dijauhkan dari keburukan.”
(HR. Ahmad)

Jamaah yang dirahmati Allah,
Ramadhan mungkin akan berlalu, tetapi doa-doa kita sedang dicatat.
Air mata yang jatuh di sepertiga malam,
bisikan lirih saat berbuka,
dan harapan yang dipendam dalam sujud,
semuanya tidak pernah sia-sia.

Jangan lelah berdoa,
jangan bosan berharap,
karena Allah Maha Mendengar dan Maha Mengabulkan.

Semoga Ramadhan ini menjadikan kita hamba-hamba yang dekat dengan Allah lewat doa-doa yang tulus.

اَللّٰهُمَّ تَقَبَّلْ دُعَاءَنَا فِيْ شَهْرِ رَمَضَانَ، وَاغْفِرْ ذُنُوْبَنَا، وَاقْضِ حَوَائِجَنَا، وَاجْعَلْنَا مِنْ عِبَادِكَ الصَّالِحِيْنَ.